Pementasan Wayang Sasak yang Menggabungkan Tradisi dan Inovasi
Di bawah langit senja Senggigi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebuah pementasan wayang bertajuk “Kembalinya Senyum Dewi Rengganis” menghadirkan kekayaan budaya lokal yang memikat. Acara ini digelar di alun-alun Pertunjukan Pasar Seni Senggigi, tempat panggung terbuka berdiri dengan indah, menyatu dengan alam sekitar.
Pertunjukan ini menarik banyak penonton, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Mereka datang untuk menyaksikan kisah tradisional yang dibawakan dengan nuansa modern. Di pintu masuk area pertunjukan, para pengunjung disambut oleh ragam kain tenun khas daerah seperti Lombok, Samawa, hingga Bima. Kain-kain ini menjadi simbol dari kekayaan warisan leluhur yang ingin dilestarikan.
Tak jauh dari panggung, deretan pelapak UMKM tradisional menjajakan kuliner khas Lombok seperti sate bulayak, pelalah, dan pelecing kangkung. Aroma bumbu dan rempah mencampur dengan angin laut, menciptakan suasana yang begitu khas dan menggugah selera.
Ketika gong dipukul, suasana pun hening. Suara dalang yang lantang menandai dimulainya pertunjukan Wayang Sasak dengan lakon “Kembalinya Senyum Dewi Rengganis”. Di balik layar, para sekehe (personel) pendukung pertunjukan bekerja dengan cekatan, memastikan alur cerita berjalan lancar.
Pertunjukan ini tidak hanya menampilkan Wayang Kulit Sasak biasa. Di atas panggung, tradisi berpadu dengan inovasi. Selain wayang kulit, tampil pula wayang botol, tokoh wayang yang terbuat dari limbah botol plastik. Inovasi ini lahir dari semangat mencintai lingkungan, mengolah sampah plastik menjadi medium seni yang sarat pesan.
Kisah Dewi Rengganis dan Tenun yang Hilang
Lakon ini terinspirasi dari cerita Wayang Sasak Haldak Emas. Dikisahkan Dewi Rengganis, putri Kerajaan Haldak Emas, diliputi kegundahan. Wajahnya murung, senyumnya sirna. Seluruh harta peninggalan leluhur berupa tenun-tenun berharga dari tanah Lombok, Samawa, dan Mbojo yang tersimpan di puri kerajaan, lenyap entah ke mana.
Tangis sang Dewi terdengar oleh Raden Umar Maye. Ia berusaha menghibur Dewi Rengganis dan berjanji akan menemukan kembali harta yang tak ternilai itu. Untuk itulah ia mengutus WA dan Tol, dua punakawan Wayang Botol, mencari jejak tenun-tenun yang hilang.
Dalam perjalanan, WA dan Tol menemukan kain-kain bermotif tenun tradisional yang telah diolah menjadi berbagai karya busana modern. Mereka bersukacita dan segera menghadap Raden Umar Maye. Namun harapan itu pupus karena kain-kain tersebut hanyalah tiruan.
Pada akhirnya terungkap, Dewi Rengganis sesungguhnya masih menyimpan harta warisan itu di dalam saok, peti penyimpanan kain leluhur yang hanya bisa dibuka dengan mantra bersama. Ketika peti itu terbuka, kekayaan budaya tersebut masih terjaga utuh. Senyum pun kembali merekah di wajah Dewi Rengganis.
Inovasi Wayang untuk Generasi Baru

Pendiri Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS), Fitri Rachmawati, menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kembali ragam seni pertunjukan Sasak kepada publik yang lebih luas. “Dalam mengembalikan senyum Rengganis ini kami ingin mengenalkan wayang wong Sasak. Selain wayang Sasak, kita punya wayang wong yang ceritanya dari Serat Menak,” ujar Fitri.
Ia menambahkan, inovasi menjadi kunci agar wayang tetap relevan di tengah generasi muda. “Setelah kami berinovasi mengenalkan wayang botol agar wayang Sasak tetap bisa diterima anak-anak muda, kami ingin mempopulerkan wayang wong yang juga ada di Lombok,” katanya.
Melalui panggung terbuka Pasar Seni Senggigi, SPWS sekaligus menguji respons publik. “Melalui panggung terbuka pasar seni Senggigi, kami ingin menguji apakah kehadiran wayang wong bisa diterima. Untuk awal ini kami coba wayang wong tokoh Dewi Rengganis,” tutup Fitri.
Di bawah langit senja Senggigi, pertunjukan pun berakhir dengan tepuk tangan penonton. Wayang, tenun, dan pesan lingkungan berpadu dalam satu cerita merawat tradisi agar tetap hidup.

Tinggalkan Balasan