Fenomena Pasang Maksimum dan Dampaknya pada Jakarta
Pada hari Sabtu (6/12), curah hujan yang tinggi serta permukaan air laut yang naik menyebabkan beberapa wilayah di Jakarta mengalami banjir. Namun, pada hari Minggu (7/12), sebagian wilayah yang terkena dampak banjir mulai surut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun banjir terjadi, kondisi secara keseluruhan mulai membaik.
Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, menjelaskan bahwa banjir rob yang melanda beberapa daerah di Jakarta disebabkan oleh fenomena pasang maksimum akibat fase Bulan Purnama dan Perigee (Supermoon). Fenomena ini memicu kenaikan permukaan air laut yang berdampak pada banjir pesisir di sejumlah titik.
”Adanya fenomena pasang maksimum air laut yang bersamaan dengan fase Bulan Purnama dan Perigee (Supermoon) berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum. BMKG sudah memberi peringatan dini untuk waspada terhadap banjir pesisir dari 1 hingga 10 Desember 2025,” ujar Mohamad Yohan.
Dia juga mengimbau warga yang tinggal di pesisir agar selalu waspada dan siap menghadapi potensi banjir yang bisa terjadi kapan saja.
Meski sebagian besar wilayah yang tergenang mulai surut, BPBD DKI masih mencatat adanya satu ruas jalan yang tergenang akibat rob. Genangan setinggi 10 sentimeter masih terjadi di Jalan RE Martadinata, depan JIS, Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok. Jajaran Pemprov DKI disebutkan tengah terus melakukan penanganan di lokasi tersebut.
Upaya Pemerintah DKI Jakarta dalam Menghadapi Banjir
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengimbau kepada jajarannya untuk mengantisipasi banjir yang disebabkan oleh curah hujan tinggi maupun kenaikan permukaan air laut.
”Ketika ada potensi curah hujan lebih dari 200 mm, saya minta untuk segera dilakukan modifikasi cuaca,” ujarnya. Meski demikian, dia tidak merinci jumlah operasi modifikasi cuaca (OMC) yang akan dilakukan Pemprov DKI, karena harus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selain itu, terkait alokasi anggaran OMC tersebut, Pramono Anung tidak merincikannya. Dia hanya menyebutkan bahwa alokasi anggaran disiapkan melalui BPBD DKI. Hal ini menunjukkan bahwa pihak pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah preventif untuk mengurangi risiko banjir di Jakarta.
Langkah-Langkah yang Dilakukan untuk Menangani Banjir
Beberapa langkah telah diambil oleh Pemprov DKI Jakarta untuk menghadapi ancaman banjir. Di antaranya adalah:
- Koordinasi dengan BMKG dan BNPB untuk memastikan pengambilan keputusan yang tepat.
- Peningkatan kewaspadaan masyarakat di daerah rawan banjir.
- Penanganan darurat di lokasi yang tergenang, seperti Jalan RE Martadinata.
- Persiapan anggaran untuk operasi modifikasi cuaca jika diperlukan.
Dengan upaya-upaya ini, diharapkan dapat mengurangi dampak banjir yang bisa terjadi akibat fenomena alam seperti pasang maksimum dan curah hujan tinggi. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan siap menghadapi situasi darurat jika diperlukan.

Tinggalkan Balasan