Penelitian tentang Sesar Aceh Mengungkap Sejarah Gempa Besar
Sebuah studi terbaru mengenai sesar Aceh telah mengungkap adanya sejarah gempa besar yang terjadi di wilayah tersebut dalam kurun waktu sekitar 600 tahun yang lalu. Temuan ini, yang sudah dipublikasikan di jurnal Tectonophysics, menunjukkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi gempa bumi di masa mendatang.
Peneliti dan penulis studi, Dr. Gayatri Indah Marliyani, menjelaskan bahwa tiga gempa besar telah teridentifikasi dalam sejarah wilayah tersebut. Dua dari kejadian gempa tersebut memiliki data usia yang cukup akurat, sedangkan satu kejadian lainnya masih memiliki rentang ketidakpastian umur yang panjang.
Metode Penelitian yang Digunakan
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pemetaan sesar aktif berdasarkan data topografi terbaru dan teknik paleoseismologi dengan metode trenching. Metode ini melibatkan penggalian untuk mencari bukti-bukti pergerakan sesar pada lapisan tanah dan batuan.
“Kami menemukan bukti-bukti rekahan atau pergerakan akibat gempa di lokasi tersebut. Namun, tantangan utama adalah mengetahui kapan tepatnya gempa tersebut terjadi,” ujar Gayatri, yang juga menjadi dosen Departemen Teknik Geologi, Universitas Gadjah Mada (UGM), saat dihubungi oleh Maduraraya.id.
Untuk menentukan usia lapisan tanah yang terkena dampak gempa, para peneliti mengirimkan sampel radiokarbon ke laboratorium di Amerika Serikat. Hasil analisis menunjukkan adanya tiga kejadian gempa besar, dua di antaranya terjadi dalam kurun waktu sekitar 600 tahun yang lalu.
Fokus Penelitian pada Tiga Segmen Sesar
Penelitian ini, yang dimulai sejak tahun 2020 oleh tim peneliti yang diketuai oleh Dr. Gayatri Indah Marliyani, didukung oleh BMKG dan ESDM Pemprov Aceh. Fokus penelitian berada pada tiga segmen sesar, yaitu Sesar Aceh, Sesar Seulimeum, dan Sesar Batee.
Namun, temuan yang dipublikasikan dalam paper ini lebih fokus pada Sesar Aceh, yang membentang mulai dari ujung tenggara wilayah Beutong hingga kota Banda Aceh.
Implikasi bagi Masyarakat dan Pemerintah
Gayatri menjelaskan bahwa temuan ini memberikan bukti bahwa gempa besar pernah terjadi di Sesar Aceh di masa lalu, yang mengindikasikan potensi pergerakan kembali di masa depan.
“Masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur sesar ini harus menyadari bahwa wilayah tersebut adalah jalur sesar aktif yang punya potensi untuk menyebabkan gempa dengan magnitudo yang cukup signifikan,” jelasnya.
Potensi gempa di darat ini berbeda dengan potensi tsunami yang disebabkan oleh zona subduksi. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap potensi guncangan dan robekan di permukaan akibat gempa bumi di darat. Pemerintah juga diharapkan untuk melakukan penataan ruang yang sesuai di zona sesar aktif.
Lokasi Penelitian dan Potensi Gempa di Wilayah Banda Aceh
Lokasi penelitian berada di dekat kota kecil bernama Geumpang. “Namun, jalur sesar Aceh sendiri memanjang hingga ke kota Banda Aceh, sehingga potensi gempa perlu diwaspadai di wilayah tersebut,” pungkas Gayatri.

Tinggalkan Balasan