Belut, hewan yang memiliki bentuk panjang seperti ular, sudah sangat dikenal oleh banyak orang. Meski penampilannya mungkin terlihat menyeramkan bagi sebagian orang, belut justru menjadi salah satu hewan yang cukup diminati karena rasanya yang gurih dan tekstur yang lembut. Dulu, hidangan berbahan dasar belut mudah ditemui di berbagai tempat makan, namun kini semakin jarang ditemukan. Hanya beberapa warung atau tempat makan tradisional yang masih menyajikan menu ini.

Belut bisa diolah menjadi berbagai hidangan lezat, mulai dari belut goreng kering dan renyah, belut serundeng yang gurih dan manis, hingga belut cobek pedas atau pepes belut yang kaya akan rempah. Semua olahan tersebut mampu memancing selera makan siapa pun hanya dengan membayangkannya.

Menurut Nur Hidayatullah Romadhon, dosen pendidikan biologi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, belut (Monopterus) merupakan spesies ikan yang berbentuk panjang dan mirip ular. Hewan ini hidup di perairan tawar seperti sawah, rawa, dan sungai. Selain lezat, belut juga memiliki kandungan protein tinggi serta kaya nutrisi seperti asam lemak omega-3, vitamin A, zat besi, dan kalsium.

Dalam sebuah penelitian, diketahui bahwa 100 gram belut mampu memenuhi lebih dari 100% kebutuhan harian vitamin A dan vitamin B12. Vitamin-vitamin ini penting untuk kesehatan mata, membantu produksi energi, serta memperkuat sistem kekebalan tubuh. Selain itu, belut juga menjadi sumber alami vitamin D, dengan kandungan lebih dari setengah kebutuhan harian per 100 gram. Vitamin D berperan sebagai hormon yang membantu kesehatan tulang dan sistem imun.



Yang menarik adalah meskipun hidup di lingkungan berlumpur, penelitian menunjukkan bahwa belut memiliki kadar merkuri yang sangat rendah, bahkan lebih rendah dibandingkan ikan populer seperti cod atau tuna kaleng. Karena itu, beberapa lembaga internasional seperti American Pregnancy Association dan Environmental Defense Fund mengategorikan belut sebagai ikan yang aman dikonsumsi dengan kadar merkuri rendah.

Meskipun belut dikenal sebagai makanan yang sehat, mengonsumsinya setiap hari dapat menimbulkan beberapa masalah kesehatan. Dayat, seorang ahli kesehatan, menjelaskan bahwa dalam 100 gram daging belut terdapat sekitar 185 mg kolesterol. Bagi individu dengan risiko penyakit kardiovaskular, konsumsi kolesterol berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol darah dan berpotensi menyebabkan penyakit jantung koroner, stroke, dan gangguan lainnya.

Dari sudut pandang biologis, penumpukan kolesterol di arteri dapat menyumbat aliran darah dan mengganggu fungsi organ vital tubuh. Selain itu, lingkungan hidup belut yang berlumpur membuatnya rentan tercemar logam berat seperti merkuri dan timbal, serta bahan kimia dari limbah industri. Fenomena bioakumulasi, di mana organisme menyerap racun lebih cepat daripada kemampuan tubuhnya untuk mengeluarkannya, sangat mungkin terjadi pada belut.



Jika seseorang mengonsumsi belut yang terkontaminasi logam berat dalam jangka panjang, ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, seperti kerusakan ginjal, gangguan sistem saraf, dan masalah perkembangan janin pada ibu hamil.

Selain risiko tersebut, konsumsi belut secara terus-menerus juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi dalam tubuh. Meskipun belut merupakan sumber protein yang baik, diet sehat memerlukan variasi makanan yang seimbang. Konsumsi belut setiap hari dapat menyebabkan asupan protein dan lemak berlebihan, sementara nutrisi penting seperti serat yang terdapat dalam sayuran dan buah-buahan menjadi kurang terpenuhi.

Ketidakseimbangan ini, dalam jangka panjang, dapat memicu gangguan pencernaan, obesitas, serta kekurangan mikronutrien yang penting bagi tubuh. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan dalam pola makan agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai risiko penyakit.