Perundungan di Era Digital: Tantangan yang Tak Terlihat

Perundungan di era digital kini menjadi masalah serius yang tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga melalui media sosial dan tekanan sosial yang terus-menerus. Fenomena ini sangat berdampak pada Generasi Z, yang lebih rentan terhadap pengaruh dari dunia maya.

Menurut psikolog Iestri Kusumah Wardhani, perundungan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan memiliki pola pikir dan kebutuhan psikologis tertentu. “Sebenarnya para pelaku bullying sering kali mengalami kekosongan dalam diri mereka. Mereka ingin terlihat keren atau mendapatkan validasi dari orang lain,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa beberapa pelaku perundungan mencari rasa berkuasa dengan merendahkan orang lain. Namun, ketika korban tidak memberikan respons emosional, perilaku tersebut bisa mereda sendiri. Diam disebut sebagai salah satu strategi perlindungan diri, terutama bagi mereka yang belum siap secara mental menghadapi konfrontasi.

Strategi Perlindungan Diri yang Efektif

Dalam banyak kasus, pelaku bullying justru merasa “kehilangan panggung” ketika korban tidak menunjukkan reaksi. Oleh karena itu, tidak merespons bisa menjadi pilihan yang bijak. “Jangan ditanggapi, diam saja, karena takutnya malah jadi dampak buruk dan orangnya juga di luar kuasa kita,” tambah Iestri.

Ia menekankan bahwa merespons perundungan membutuhkan kesiapan psikologis. Tidak semua orang berada dalam kondisi aman untuk berdebat atau mengonfrontasi pelaku. Menghindar bisa menjadi pilihan yang lebih sehat dalam situasi tertentu.

Bentuk Perundungan yang Lebih Halus

Perundungan digital kini berkembang dalam bentuk yang lebih halus dan sering tidak disadari. Tekanan untuk membandingkan diri dengan standar media sosial menjadi salah satu bentuk perundungan modern yang memengaruhi kesehatan mental anak muda.

“Sekarang itu bukan lagi cuma dari satu orang ke satu orang, tapi bisa dari banyak arah, bahkan dari algoritma, karena kita terus diajak membandingkan diri tanpa akhir,” ujarnya.

Kondisi ini membuat peran keluarga dan lingkungan menjadi semakin penting sebagai ruang aman bagi Generasi Z. Keluarga dan lingkungan dapat memberikan dukungan emosional dan psikologis yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di dunia digital.

Peran Keluarga dalam Mencegah Perundungan

Melalui acara Gen Z Fest: The Next Wave of Digital Natives, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN mengajak anak muda memahami bahwa perundungan bukan sekadar persoalan individu, melainkan fenomena sosial yang perlu dihadapi dengan kesadaran, empati, dan dukungan bersama.

Pendekatan edukatif yang relevan dengan dunia digital diharapkan mampu membantu Generasi Z mengenali batas aman diri. Memahami dinamika perundungan serta membangun ketahanan mental di tengah derasnya arus media sosial menjadi kunci untuk menghadapi tantangan di era digital.

Kesimpulan

Perundungan di era digital adalah isu yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang holistik. Dari sisi pelaku, penting untuk memahami motivasi mereka dan memberikan bimbingan yang tepat. Dari sisi korban, strategi seperti diam dan tidak merespons bisa menjadi cara efektif untuk melindungi diri.

Selain itu, peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam memberikan dukungan dan perlindungan. Melalui edukasi dan kesadaran bersama, Generasi Z dapat lebih siap menghadapi tantangan di dunia digital tanpa kehilangan kesehatan mental dan emosional.