Penanganan Premanisme di Tanah Abang

Kawasan Tanah Abang, yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan terbesar di Asia Tenggara, kini menjadi perhatian serius pihak berwajib. Maraknya aksi premanisme di kawasan ini mendorong Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta bekerja sama dengan TNI dan Polri untuk membentuk posko pengawasan terpadu. Tujuannya adalah memperkuat keamanan dan mempercepat respons dalam menghadapi ancaman ketertiban.

Langkah ini diambil setelah beberapa kali aksi premanisme di kawasan tersebut viral di media sosial, menarik perhatian publik. Satriadi, seorang pejabat terkait, menjelaskan bahwa tiga pilar utama yaitu TNI, Polri, dan Satpol PP akan bekerja sama dalam upaya penanggulangan masalah ini. Ia menyatakan bahwa pembentukan posko bersama merupakan salah satu upaya yang sedang dipertimbangkan.

Saat ini, Satpol PP masih menunggu laporan teknis dari jajaran lapangan terkait konsep dan lokasi posko. Penentuan lokasi dinilai sangat penting mengingat kompleksitas aktivitas di Tanah Abang yang tidak hanya melibatkan para pedagang tetapi juga banyak pengunjung dan pengemudi kendaraan.

Satriadi menekankan bahwa penanganan premanisme tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi lintas sektor agar upaya pengamanan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Menurutnya, kolaborasi antara tiga pilar tersebut serta instansi lain seperti Dishub, Lurah, Camat, RT, RW, dan masyarakat harus saling mendukung.

Menurut Satriadi, tingginya aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di Tanah Abang membuat potensi gangguan ketertiban lebih besar dibanding wilayah lain. “Tanah Abang itu pusat perdagangan se-Asia Tenggara paling besar, pasti ada potensi-potensi kerawanan terhadap keamanan dan ketertiban,” ujarnya.

Meski demikian, ia memastikan bahwa kondisi keamanan di DKI Jakarta secara umum masih tergolong kondusif. Berbagai langkah preventif terus dilakukan, mulai dari patroli rutin hingga peningkatan peran serta masyarakat dalam menjaga lingkungan. “Yang penting adalah respons cepat kita, tapi antisipasi sebenarnya kembali lagi pada kesadaran masyarakat,” tambahnya.

Viral Aksi Pemalakan Terhadap Sopir Bajaj

Sebelumnya, video yang memperlihatkan seorang sopir bajaj diduga dipalak dua pria di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, viral di media sosial. Dalam video tersebut, sopir bajaj mengaku harus menyetor uang hingga Rp 100.000 per hari untuk menghindari intimidasi.

Berdasarkan unggahan akun Instagram @jakarta.terkini, disebutkan dugaan aksi premanisme dengan modus uang setoran terhadap sopir bajaj di kawasan Tanah Abang. Dalam video itu, awalnya sopir bajaj terlihat memberikan sesuatu dari dalam tas kepada seorang pria berkaos hitam, bercelana khaki, dan bertopi hitam. Pria tersebut kemudian berjalan menjauh sambil membawa sesuatu.

Tidak lama setelah itu, seorang pria lain berjaket hoodie dan bertopi putih mendekati bajaj dan meminta sesuatu kepada sopir. Peristiwa tersebut direkam oleh seorang perempuan yang menjadi penumpang bajaj. “Ah parah,” kata pria itu kepada sopir bajaj.

“Tadi bukannya sudah dikasih?,” tanya penumpang bajaj. “Tahu, sudah dikasih,” kata sopir bajaj menimpali. Meskipun begitu, pria bertopi putih itu kembali menagih permintaan. “Beneran Bang, kalau belum, belum Bang,” katanya. “Sudah, sudah,” jawab sopir bajaj sambil memberikan uang kertas Rp 2.000 kepada pria tersebut.

Setelah kejadian itu, penumpang bajaj menanyakan soal dugaan pemalakan tersebut. “Kalau di Tanah Abang memang kayak gitu ya, Bang? Dimintain apa tuh? Tapi ‘palak’ atau habis apa sih, Bang?,” tanya penumpang. “Ya, palak,” katanya. Sopir bajaj kemudian mengaku dalam sehari total uang yang harus dikeluarkan mencapai Rp 100.000 untuk setoran. Ia juga menyebut akan diteriaki maling dan kaca bajaj ditonjok jika tidak memberikan uang. “Bukannya saya engga berani ngelawan, saya tapi saya nyari makan juga di situ,” kata sopir bajaj.