Peningkatan Jumlah Akseptor KB di Kecamatan Ende Utara

Pada tahun 2025, jumlah akseptor Keluarga Berencana (KB) baru di Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende mencapai 206 orang hingga bulan November. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dalam penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang.

Metode Kontrasepsi yang Digunakan

Dari total 206 akseptor KB baru, sebanyak 92 orang menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang. Di antaranya, 29 akseptor menggunakan metode implant dan 63 akseptor menggunakan IUD (Intra Uterine Device). Sementara itu, untuk metode jangka pendek, terdapat 40 akseptor yang menggunakan metode suntik, 8 akseptor dengan metode pil, serta 66 akseptor yang memilih metode kondom.

Penyuluh KB Kecamatan Ende Utara, Yuliati Gorety Suwo menjelaskan bahwa pencapaian ini tidak terlepas dari berbagai kegiatan penyuluhan yang dilakukan selama tahun 2025. Dalam kegiatan tersebut, dana BOKB digunakan sebanyak 10 kali dan kegiatan rutin dilaksanakan sepanjang tahun.



Dari 10 kali kegiatan penyuluhan menggunakan dana BOKB, kami berhasil mendapatkan sekitar 60 an akseptor baru. Lebih banyak dari mereka menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang seperti implant dan IUD,” ujarnya kepada Aksaraintimes.id.

Fasilitas Kesehatan yang Berperan

Lebih banyak akseptor KB baru diperoleh melalui pelayanan di beberapa fasilitas kesehatan, yaitu Puskesmas Kota Ratu, Klinik Borokanda, dan Klinik Roworena. Hal ini menunjukkan kolaborasi yang baik antara petugas KB dengan fasilitas kesehatan setempat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya KB.

Kendala yang Dihadapi

Meski ada peningkatan, masih terdapat kendala utama dalam proses penerimaan KB. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah ketidakekspresian sebagian Pasangan Usia Subur (PUS) untuk ikut KB meskipun sudah memiliki banyak anak. Menurut Gorety Suwo, hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman atau ketidakpercayaan terhadap metode kontrasepsi yang tersedia.

Kerjasama Lintas Sektor

Untuk mengatasi kendala tersebut, kerjasama lintas sektoral terus dibangun. Gorety Suwo menyatakan bahwa petugas KB di wilayah tersebut hanya berdua, sehingga perlu bantuan dari kader PPKBD dan sub di lapangan. “Kami tidak bekerja sendiri. Kader PPKBD dan sub menjadi tangan kami di lapangan,” tambahnya.

Momentum dan Strategi

Selain kegiatan penyuluhan yang bersumber dari dana BOKB, Gorety Suwo juga sering memanfaatkan momentum seperti Hari Keluarga Nasional (Harganas), Hari Bidan, dan momen lainnya untuk membuat gebrakan di berbagai fasilitas kesehatan. Momentum ini menjadi sarana efektif untuk menggerakkan kader dan mencari akseptor KB baru.



“Di acara-acara seperti ini, kami biasanya dapat lumayan banyak calon akseptor,” kata Gorety Suwo.

Kesimpulan

Peningkatan jumlah akseptor KB di Kecamatan Ende Utara merupakan hasil dari berbagai upaya yang dilakukan oleh petugas KB dan kader di lapangan. Meski masih ada tantangan, kolaborasi dan strategi yang tepat telah membantu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program KB. Dengan terus memperkuat komunikasi dan edukasi, diharapkan jumlah akseptor KB akan terus meningkat di masa depan.