Masalah Pengambilan Pasir Ilegal di Pulau Bajo
Pulau Bajo, yang dikenal dengan keindahan alamnya dan menjadi destinasi wisata favorit, kini menghadapi ancaman serius akibat aktivitas ilegal yang terjadi di sepanjang pesisirnya. Tidak seperti pencurian biasa, aksi pengambilan pasir ini dilakukan secara terbuka oleh sejumlah pemilik kapal yang beroperasi di perairan Labuan Bajo. Mereka menggunakan alat-alat sederhana seperti karung beras, jeriken, dan sekoci untuk memindahkan pasir dari pantai ke kapal mereka.
Aktivitas Terbuka dan Ancaman Kekerasan
Aktivitas ini dilakukan tanpa izin dan dengan cara yang sangat menantang siapa pun yang berani melarang. Warga setempat yang mencoba menegur justru mendapat perlakuan kasar dan tantangan terbuka. Menurut Iki, warga Labuan Bajo yang sering beraktivitas di Pulau Bajo, para pelaku bahkan mengancam siapa pun yang berusaha menghentikan mereka, termasuk aparat keamanan.
“Mereka katakan, ‘Siapapun yang datang cegat polisi, Angkatan Laut, Pemda, kami tidak urus!’ Begitu sombongnya mereka saat ambil pasir di depan mata kami,” ujarnya dengan nada geram.
Dalam satu hari saja, para pelaku bisa dua kali datang mengeruk pasir pagi dan siang. Jumlah pasir yang diangkut mencapai berton-ton setiap kali operasi. Tak hanya pasir, mereka juga meninggalkan tumpukan sampah dan kaleng cat bekas di sekitar pantai yang dulu terkenal bersih dan indah.

Dampak Lingkungan dan Ekonomi
Husna, ayah Iki yang tinggal di Pulau Bajo, menyebut bahwa para pelaku menggunakan karung untuk mengangkut pasir ke sekoci kecil sebelum dibawa ke kapal besar. Dari pantauan mereka di kapal, terdapat tulisan “Lintas Nusa” dan “Rehan Jaya”, sementara sebelumnya juga terlihat kapal bertuliskan “Vale” beroperasi di lokasi yang sama.
“Kami sudah sering larang. Tapi mereka malah menantang, ‘Ngapain kamu larang? Memang kamu siapa?’ (kata pelaku.Red) Padahal kami ini nelayan, yang setiap hari hidup dari laut dan menjaga pantai ini,” ujar Husna penuh kecewa.
Pantauan langsung di lokasi menunjukkan jejak lubang-lubang besar menganga di sepanjang garis pantai akibat pengerukan pasir tersebut. Selain itu, banyak pohon pelindung di bibir pantai yang kini hilang, membuat kawasan itu rawan abrasi dan kehilangan bentuk alaminya.
Kondisi yang Mengkhawatirkan
Kondisi ini tak hanya merusak pemandangan, tapi juga mengancam ekosistem pesisir serta mata pencaharian warga setempat. Dengan semakin parahnya kerusakan pesisir, warga berharap pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan otoritas kelautan segera bertindak tegas menertibkan penjarahan pasir Pulau Bajo.
“Kalau ini dibiarkan, pantai kami habis. Sekarang saja sudah bopeng dan kotor. Kami yang hidup di sini yang paling menderita,” pungkas Husna diamini warga lainnya.
Tanggapan Pihak Berwenang
Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT Wilayah Manggarai Barat, Robertus Edy Surya, saat dikonfirmasi belum memberikan tanggapan resmi. Ia hanya meminta agar bukti aktivitas ilegal tersebut dikirimkan terlebih dahulu.
“Kirim dulu videonya kaka, biar kami telaah lebih lanjut,” ujarnya singkat saat dihubungi.
Warga setempat berharap pihak berwenang segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan aksi pengambilan pasir ilegal yang semakin meresahkan. Mereka memohon agar keindahan dan kelestarian Pulau Bajo dapat tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan