Pameran Metropolis Kembang: Bandung dalam Perspektif Seniman
Pameran Metropolis Kembang menjadi ajang untuk melihat Kota Bandung dari berbagai sudut pandang. Pameran yang menampilkan karya lima seniman, yaitu Abdul Muhlis Ajamat, Laili Izzati Nugraha, Naufal Fadilah, Sanis Sintia, dan Yuro Harry Rangga, menggambarkan bagaimana vibrasi sebuah kota memengaruhi pemikiran dan karya yang dihasilkan.
Kota Bandung menjadi jangkar bagi segala ide kreatif yang diusung oleh para seniman. Pameran ini berlangsung di Galeri Thee Hu is, Jalan Bukit Dago Selatan, 6-13 Desember 2025. Melalui pameran ini, para seniman berusaha mengeksplorasi hubungan antara kota dengan seniman dan karya yang diciptakan. Hal ini menjadi alternatif untuk menelusuri perjalanan sejarah seni rupa serta kota.
Dalam seni rupa, kehadiran kota memiliki berbagai versi. Salah satu versi awal adalah bagaimana kota hadir dalam visual karya seniman sebagai latar dari objek atau tema utama karya.

Kurator Anton Susanto menjelaskan bahwa revolusi industri dan perubahan sistem pemerintahan turut membentuk dan memberi perubahan signifikan pada wajah dan denyut kota. Kehadiran teknologi arsitektur, transportasi, urbanisasi, dan dinamika ekonomi serta pendidikan menjadi agen yang memberi perubahan terhadap tata kehidupan di kota.
Memasuki era ini, kata Anton, dinamika kota mulai memberikan rangsangan berbeda pada gagasan para seniman. Kota telah melahirkan realitas baru, khususnya pada karya-karya seniman.
“Perjalan panjang itu sangat dinamis melalui berbagai penanda zaman di dunia. Seperti, pandemi dan perang dunia, hingga terus bertransformasi pada kecenderungan seni rupa kontemporer saat ini. Kota yang semula hanya menjadi latar, bertransformasi menjadi subjek utama. Saat ini, seniman tidak hanya menggambarkan kota, tapi menghayati, melakukan observasi dan analisis terhadap kota, melakukan intervensi terhadap kota, serta mengkritisi kota,” tutur dia.
Anton menyebutkan, para seniman di pameran ini menggunakan pendekatan analisis terhadap Kota Bandung dengan perspektif sebagai pendatang atau pemukim sementara. Hal tersebut menjadi sudut pandang yang bisa jadi memiliki cara yang berbeda dengan penduduk asli yang sejak lahir telah menetap di Kota Bandung atau sudut pandang wisatawan yang menetap untuk jangka waktu sangat pendek.
Tanpa Ikon
Menurut Anton, jangan berharap akan menemukan landmark atau ikon Kota Bandung secara eksplisit pada karya mereka. Soalnya, mereka tidak sedang menggambar ulang wajah Kota Bandung yang sangat umum dan kasat mata. Mereka mencoba menghayati dan membangun perspektif lain yang akan memberikan tawaran dalam melihat Kota Bandung.

Misalnya, Yuro Harry Rangga yang merekam pengalamannya dalam kemacetan lalu lintas dan permukiman padat. Penggunaan kertas kardus (bekas) pada karyanya bisa jadi merupakan artikulasi untuk menyampaikan tentang kepedulian pengelolaan sampah atau barang bekas.
Kemudian, Sanis Sintia membuat seri lukisan yang mengkritisi pengalamannya sebagai pendatang di Bandung, yaitu budaya konsumsi yang tinggi. Tidak sebatas dalam pandangan, suasana ini merupakan pengalaman personal saat berusaha seirama dengan denyut kehidupan Kota Bandung.
Anton mengatakan, karya-karya yang hadir cenderung menghadirkan kota bukan sebagai ideologi, namun sebagai pengalaman dan lanskap sensorik. Seperti, dinamika dan ritme masyarakat, kepadatan, kebisingan, kemacetan, polusi, dan arsitektur.

Tinggalkan Balasan