Keluarga Korban Minta Penyelidikan Kasus Rubuhnya Bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny

Beberapa keluarga korban dari kejadian rubuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Kabupaten Sidoarjo, mulai menyerukan agar pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan dan menetapkan tersangka terkait insiden yang menewaskan lebih dari 50 orang.

Salah satu keluarga korban adalah Fauzi, warga Bangkalan, Madura. Ia menceritakan bahwa satu anak dan empat ponakannya menjadi korban dalam tragedi tersebut. Meski anaknya berhasil selamat karena berada di shaf depan saat kejadian, keempat ponakannya tidak beruntung.

“Anak saya sendiri, alhamdulillah selamat, karena di shaf depan pada waktu kejadian. Nah (empat keponakan saya) sampai saat ini belum tahu bagaimana. Keluarga sangat terpukul, kami merasa kehilangan,” ujarnya, Kamis (9/10).

Keempat ponakan Fauzi adalah Muhammad Ubaidillah, Muhammad Haikal Ridwan, M. Muzakki Yusuf, dan Muhammad Azam Albi Alfa Himam. Mereka merupakan santri dari Pondok Pesantren Al Khoziny.

Fauzi menyayangkan sikap tertutup pihak pondok pesantren. Ia mengaku belum menerima penjelasan resmi maupun bentuk tanggung jawab dari pengurus pondok sejak tragedi itu terjadi.

“Saya tekankan kalau memang ada pelanggaran hukum di situ, ada kelalaian manusia. Ya harus diproses, siapapun itu. Tidak memandang itu status sosial siapa. Hukum harus ditegakkan,” tegas Fauzi.

Meski begitu, pihaknya mengaku belum mengambil langkah hukum mandiri, namun ia menyatakan dukungan penuh terhadap upaya aparat penegak hukum untuk menyelidiki kejadian tersebut.

“Iya dong, jelas (mendukung proses penyelidikan dipercepat). Proses itu sambil berjalan, kan seperti itu, tidak mengganggu identifikasi proses penelusuran hukum itu. Kami mendorong lebih cepat,” pungkasnya.

Kronologi Singkat Kejadian

Bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di area Pondok Pesantren Al Khoziny tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB.

Insiden tragis ini terjadi saat para santri sedang melakukan Salat Asar berjamaah pada rakaat kedua. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam reruntuhan bangunan.

Setelah 9 hari berjibaku mengevakuasi korban yang tertimbun reruntuhan, kegiatan operasi SAR resmi ditutup pada Selasa (7/10) pukul 10.00 WIB.

Data terakhir menunjukkan bahwa korban dalam bencana non alam ini mencapai 171 orang, dengan rincian 104 korban selamat dan 67 korban meninggal dunia, termasuk 8 body part.

Hingga kini, proses identifikasi jenazah korban masih dilakukan oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) di RS Bhayangkara. Dari puluhan korban meninggal dunia, 40 berhasil teridentifikasi.