Pemantauan Inflasi di Denpasar Menghadapi Musim Galungan dan Penghujan

Pada November 2025, masyarakat Denpasar akan menghadapi perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Perayaan ini biasanya memengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama dalam penggunaan daging babi dan canang sari yang bisa berkontribusi pada kenaikan inflasi. Selain itu, masuknya musim penghujan juga membuat cabai menjadi salah satu komoditas yang perlu dipantau sebagai potensi penyumbang inflasi.

Kabag Perekonomian Setda Kota Denpasar, I Wayan Putra Sarjana menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga tersebut. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain operasi pasar, pasar murah, serta survei ke distributor dan gudang Bulog. Tujuannya adalah memastikan ketersediaan pasokan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kami gelar pasar murah atau operasi pasar,” ujarnya. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat menjaga stabilitas harga di pasar dan mencegah lonjakan inflasi yang tidak terkendali.

Data Inflasi dan Deflasi di Kota Denpasar

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Denpasar, pada Oktober 2025, Kota Denpasar mengalami deflasi sebesar 0,02 persen secara bulanan (mtm). Namun, secara tahunan (yoy), Denpasar Bali mengalami inflasi sebesar 3,29 persen.

Beberapa komoditas dominan memberikan andil terhadap deflasi bulanan pada Oktober 2025. Di antaranya adalah beras, daging ayam ras, tomat, bawang merah, pepaya, semangka, udang basah, rampela hati ayam, bayam, buah naga, mangga, tongkol diawetkan, susu cair kemasan, dan pisang.

Sementara itu, beberapa komoditas lainnya menyumbang inflasi bulanan, seperti emas perhiasan, sawi hijau, cabai merah, upah asisten rumah tangga, angkutan udara, wortel, air kemasan, roti tawar, sewa rumah, ikan teri, jeruk, brokoli, buncis, dan pakcoy.

Komoditas yang Mempengaruhi Inflasi Tahunan

Dalam konteks inflasi tahunan, beberapa komoditas dominan memberikan andil pada Oktober 2025. Antara lain, emas perhiasan, daging ayam ras, biaya pendidikan SMA, beras, sewa rumah, kopi bubuk, pepaya, cabai merah, minyak goreng, air kemasan, Sigaret Putih Mesin (SPM), pepes, upah asisten rumah tangga, bawang merah, biaya bimbingan belajar, tongkol diawetkan, kontrak rumah, sawi hijau, iuran pembuangan sampah, dan vitamin.

Langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah setempat menunjukkan komitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memastikan ketersediaan barang kebutuhan pokok. Dengan pemantauan yang intensif dan pengambilan kebijakan yang tepat, diharapkan inflasi dapat tetap terkendali meski menghadapi momen-momen penting seperti Galungan dan musim hujan.