Pengalaman Cinta yang Tidak Biasa
Cinta bisa datang dalam berbagai bentuk dan cara. Dalam kisah ini, kita akan mengikuti perjalanan cinta antara Dina dan Raka, dua orang yang memiliki cara unik dalam mengekspresikan perasaan mereka.
Awal Mula yang Tak Terduga
Kisah ini dimulai ketika Dina merayakan ulang tahunnya. Raka, pacarnya yang bekerja sebagai insinyur jaringan dengan ijazah kloningan, memutuskan untuk memberi hadiah yang tidak biasa. Baginya, hadiah terbaik bukanlah bunga, tetapi koneksi internet yang stabil. Ia percaya bahwa kehadiran seseorang di saat yang tepat adalah bentuk cinta paling mutakhir.
Dina telah memberi banyak petunjuk bahwa ia ingin sesuatu yang lebih personal. Ia membagikan puisi Rendra di media sosial, menyukai postingan tentang cowok yang bisa membuat kalimat manis, bahkan menempel sticky note di kulkas dengan tulisan: “Hadiah terindah sama dengan perhatian yang personal.” Ia menekankan kata tersebut tiga kali, menggunakan spidol emas. Jelas sekali, ia mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekadar hadiah fisik.
Namun, Raka membaca semua itu seperti buku petunjuk router. Ia langsung menjalankan misi: seminggu sebelum hari H, ia begadang memasang WiFi di seluruh rumah, termasuk di kamar mandi. Tujuannya adalah agar Dina bisa menonton TikTok sambil mandi tanpa buffering. Menurutnya, itu adalah bentuk cinta yang modern: pengalaman pengguna yang mulus.
Pada hari-H, Raka membanggakan hasil kerjanya: “Nih, Say. Latency di kamar mandi cuma 8ms. Bahkan kalau kamu live dari toilet, viewer nggak bakal lag.”
Dina menatapnya dengan senyum kaku. Matanya berkaca-kaca, bukan karena haru, tapi karena ia sadar bahwa Raka rela begadang tiga malam hanya untuk memastikan TikTok-nya tidak buffering.
“Kamu… nggak bawa bunga?” bisiknya.
Raka mengernyit. “Bunga? Buat apa? Cepat layu, nggak scalable, dan nggak ada analytics-nya.”
Dina langsung masuk kamar mandi. Bukan untuk menangis, tapi untuk menguji koneksi WiFi. Dan ya, memang cepat. Instagram Story-nya upload dalam dua detik. Sayangnya, hatinya masih buffering. Lama sekali.
Perubahan yang Tidak Terduga
Suatu malam hujan, Raka pulang basah kuyup, baju kena lumpur, tas rembes, tapi di tangannya, ia genggam erat satu bungkus tempe goreng panas, kesukaan Dina. Ia antre 20 menit di warung Bu Surti, padahal hujan deras dan deadline-nya besok pagi.
Sampai di rumah, ia serahkan dengan lega: “Nih. Masih anget. Aku suruh Bu Surti pakai minyak baru biar nggak bikin batuk.”
Dina menerima. Lalu menangis. Raka panik: “Apa? Tempenya keasinan? Aku bisa balik lagi.”
“Bukan, Say…” Dina mengusap air mata. “Tadi di jalan, aku lihat pasangan di bawah payung. Dia pegang tangan ceweknya, pelan-pelan, meski hujan deras. Dan aku… aku cuma pegang tempe.”
Raka terdiam. Lalu, dengan wajah serius kayak lagi troubleshoot server down, ia berkata: “…Kalau kamu mau, besok aku bawa dua tempe. Satu buat kamu, satu buat… dipegang pas jalan.”
Dina menatap langit dalam hati bertanya: “Tuhan, ini hadiah atau ujian?”
Tapi akhirnya ia tertawa, lalu mengulurkan tangan: “Ini kode namanya: ‘Aku di sini. Pegang.'”
Raka mengangguk lalu buka HP-nya, rekam suara: “Ok Google, ingat: pegang tangan Dina tiap pulang hujan.”
Dina menghela napas. Tapi menggenggam tangannya erat. Karena ya, mau gimana lagi, orang ini mencintainya dengan caranya: konyol, teknis, tapi tulus banget.
Saat Demam
Puncaknya waktu Dina sakit demam. Raka langsung on duty: beli dua termometer, pasang smart thermostat, bikin playlist “Sleep & Recovery”, bahkan buat dashboard di laptop grafik suhu, asupan cairan, waktu minum obat. Semua real-time.
Dina terbaring lemah. Lalu berbisik: “Sayang… aku pengin kamu duduk di sini. Pegang tanganku. Terus bilang… ‘Aku di sini. Kamu nggak sendiri.'”
Raka mengangguk lalu ketik di laptop: console.log(“Aku di sini. Kamu nggak sendiri.”); Layar menampilkan kalimat itu. Rapi. Tanpa typo.
Dina menatapnya. “…Bukan di layar, Say. Di sini.” ia tunjuk dadanya.
Raka diam. Lalu pelan-pelan, ia tutup laptop. Matikan semua gadget. Duduk di tepi ranjang. Genggam tangan Dina. Dan berkata tanpa copy-paste, tanpa syntax, tanpa buffer: “Aku di sini. Kamu nggak sendiri.”
Dina tersenyum. Demamnya perlahan turun. Bukan karena obat tapi karena akhirnya, dua bahasa cinta itu ketemu di frekuensi yang sama: kehadiran yang hangat, konyol, dan benar-benar manusiawi.
Ritual Harian yang Berarti
Sekarang, setiap Jumat malam, mereka punya ritual: Matikan semua gadget. Ada tempe goreng (minyak baru), Dua tangan yang saling menggenggam, Dan satu kalimat wajib tanpa automation: “Aku di sini.”
Kalau lupa? Dina bilang: “Error 404: Connection Not Found.”
Dan Raka tanpa ragu langsung restart pelukannya. Manual. Pelan. Sampai sinyal cinta mereka stabil lagi.
Karena ternyata, cinta paling andal bukan yang 5G. Tapi yang sinyalnya kadang lemot, sering nge-lag, tapi nggak pernah disconnect meski dunia sedang down.
Untuk semua pasangan yang masih mencari password cinta… padahal, jawabannya cuma: “Aku di sini.”

Tinggalkan Balasan