Pengangkat Keranda Raja Keraton Surakarta yang Berusia Lanjut

Seorang lansia berusia 63 tahun, Fahrodin, menjadi perhatian dalam prosesi pemakaman Raja Keraton Surakarta, Sinuhun Pakubuwono XIII. Ia adalah salah satu dari puluhan pengangkat keranda yang bertugas mengangkat jenazah raja tersebut. Prosesi ini dilakukan di Pajimatan Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu (5/11/2025).

Meski usianya tidak lagi muda, Fahrodin tetap berdiri tegak dan memenuhi tugasnya dengan penuh keteguhan. Ia bersama rekan-rekannya akan membawa keranda sang raja menuju makam raja-raja Mataram. Prosesi ini dilakukan dengan penuh hormat dan kesadaran akan tanggung jawab besar yang diemban.

Tidak ada ritual khusus yang dilakukan Fahrodin sebelum menjalankan tugas tersebut. Saat ditanya apakah ia menyiapkan ramuan tertentu untuk menambah tenaga, ia hanya tersenyum dan menjawab, “Gak ada persiapan khusus, gak suka minum jamu.” Meskipun demikian, ia tetap memastikan tubuhnya dalam kondisi prima dengan cara sederhana.

“Makan kenyang sudah, sarapan, siap (mengangkat),” ujarnya dengan nada mantap.

Menurut Erik Gendut, warga setempat sekaligus pemandu wisata, prosesi pemakaman Raja Surakarta melibatkan sekitar 40 orang pengangkat keranda. Mereka tampil seragam dengan pakaian hitam yang memiliki corak garis merah di setiap ujung kain. Desain ini memberikan kesan sakral dan khidmat dalam suasana duka.

Keranda yang mereka angkat terlihat berwarna putih bersih. Tampak jelas bahwa keranda ini didukung oleh bambu panjang yang digunakan sebagai penyangga. Setiap langkah yang diambil oleh para pengangkat terasa lambat namun pasti. Bahkan Fahrodin, yang sudah berusia lanjut, ikut serta dalam prosesi ini tanpa menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

Prosesi pemakaman ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi simbol kehormatan kepada leluhur dan raja-raja Mataram. Para pengangkat keranda, termasuk Fahrodin, memperlihatkan dedikasi dan kesadaran akan pentingnya tugas mereka.

Beberapa aspek penting dalam prosesi ini antara lain:

Kehadiran para pengangkat keranda: Sebanyak 40 orang turut serta dalam prosesi pemakaman, menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini dalam budaya lokal.

Pakaian seragam: Pakaian hitam dengan corak garis merah mencerminkan kesakralan dan kehormatan terhadap jenazah.

Keranda yang bersih: Keranda yang digunakan terlihat sangat bersih, menunjukkan perhatian terhadap detail dan kesucian prosesi.

Langkah yang pasti: Meski usia para pengangkat bervariasi, semua bergerak dengan langkah yang stabil dan penuh rasa hormat.

Selain itu, prosesi ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan adanya partisipasi para lansia seperti Fahrodin, hal ini menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya dilestarikan oleh kalangan muda, tetapi juga oleh generasi tua yang masih aktif dan penuh semangat.

Dalam prosesi pemakaman ini, setiap detil tampak dipersiapkan dengan penuh perhatian. Mulai dari pakaian, keranda, hingga cara pengangkatan jenazah, semuanya dilakukan dengan penuh rasa hormat dan kesadaran akan arti pentingnya tugas tersebut.