Peredaran Elpiji Oplosan Mengkhawatirkan di Banda Aceh

Elpiji oplosan kembali menjadi perhatian masyarakat di kawasan Banda Aceh dan sekitarnya. Kehadirannya menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna, karena elpiji tersebut tidak memenuhi standar keamanan yang diperlukan.

Bahaya Elpiji Oplosan

Salah satu kerugian utama dari elpiji oplosan adalah rendahnya standar keamanan. Tabung yang digunakan biasanya tidak memiliki sertifikasi resmi dan lebih rentan mengalami kebocoran. Jika terjadi kebocoran dan terdapat sumber api di sekitarnya, kondisi ini dapat memicu ledakan atau kebakaran. Selain itu, paparan uap elpiji dalam konsentrasi tinggi juga berisiko terhadap kesehatan, meskipun terhirup dalam waktu singkat.

Ketua Hiswana Migas Aceh, Nahrawi Noerdin atau yang akrab disapa Toke Awi, menyampaikan bahwa elpiji oplosan tidak memiliki aspek keselamatan. Hal ini bisa mengancam nyawa manusia. Ia menjelaskan bahwa elpiji oplosan umumnya berasal dari tabung elpiji 3 kg yang kemudian disuling dan dipindahkan ke tabung ukuran 12 kg, karena harga jualnya lebih mahal.

Cara Membedakan Elpiji Oplosan

Menurut Toke Awi, salah satu cara paling mudah untuk membedakan elpiji oplosan adalah dengan memperhatikan segel pada bagian tutup tabung. Segel pada elpiji oplosan biasanya rusak dan tidak memiliki hologram. Sedangkan, tabung elpiji resmi dari Pertamina dilengkapi hologram dan barcode yang dapat dipindai untuk memverifikasi keasliannya melalui aplikasi MyPertamina.

Dampak Ekonomi pada Masyarakat

Selain masalah keselamatan, elpiji oplosan juga berpotensi merugikan masyarakat secara ekonomi. Takarannya tidak sesuai dengan ukuran tabung, karena biasanya berada di bawah standar. Dari pengurangan takaran inilah para pelaku pengoplos meraup keuntungan. Contohnya, tabung elpiji 12 kilogram yang standar memiliki berat total 27 Kg, sedangkan yang oplosan dipastikan di bawah itu.

Penyebaran Elpiji Oplosan

Berdasarkan informasi yang beredar, para pedagang menjual elpiji oplosan ini secara terang-terangan melalui media sosial di Banda Aceh. Dipastikan sudah banyak warga yang membelinya. Menurut Toke Awi, elpiji oplosan ini dibawa dari Medan dan dioplos di sana, lalu didistribusikan ke Banda Aceh melalui jalur darat.

Sebelumnya, distribusi elpiji ilegal ini dilakukan melalui jalur barat selatan Aceh. Namun, setelah jembatan penghubung di Bireuen kembali terkoneksi, besar kemungkinan tabung elpiji oplosan juga dibawa melalui lintas pantai timur utara.

Keberadaan Elpiji Oplosan

Saat jembatan sempat putus, hampir tidak ada elpiji ilegal yang masuk ke Aceh. Kini, keberadaannya kembali ditemukan karena pasokan berasal dari Medan. Hal ini menunjukkan bahwa peredaran elpiji oplosan semakin meningkat dan membahayakan masyarakat.

Kesadaran Masyarakat

Seorang warga Banda Aceh, Syahratul, mengaku baru mengetahui adanya peredaran elpiji oplosan di daerah tersebut. Informasi ini membuatnya lebih selektif dalam membeli elpiji ke depannya. Saat ini, di Banda Aceh, selain dijual di pangkalan dan agen resmi, tabung elpiji juga banyak diperjualbelikan secara daring melalui akun media sosial, dengan sistem pengambilan di lokasi yang telah disepakati antara penjual dan pembeli.

Solusi dan Tindakan yang Diperlukan

Untuk mengatasi peredaran elpiji oplosan, diperlukan tindakan yang lebih ketat dari pihak berwenang. Pemerintah dan lembaga terkait harus melakukan pengawasan yang lebih intensif terhadap distribusi elpiji agar masyarakat dapat mendapatkan produk yang aman dan berkualitas.