Sejarah dan Makna Filosofis Gapura Kleco
Gapura Kleco adalah salah satu bangunan bersejarah yang masih bertahan hingga kini di Kota Solo, Jawa Tengah. Lokasinya berada di Jalan Slamet Riyadi, Jajar, Laweyan, dekat dengan Pasar Kleco. Dari lokasi pasar tersebut, hanya butuh waktu sekitar 7 menit untuk sampai ke gapura ini. Meski letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota, gapura ini tetap menjadi simbol penting dalam sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Gapura Kleco memiliki peran penting sebagai batas barat ibu kota kerajaan. Pada masa lalu, bangunan ini sempat mengalami kerusakan serius akibat ditabrak bus pada era 1980-an. Kejadian tersebut dikenal oleh warga sekitar sebagai peristiwa tumbangnya Gapura Ngendro. Peristiwa serupa juga terjadi pada Gapura Jurug, yang ditabrak bus Batik Solo Trans pada 14 Maret 2023.
Asal Usul dan Konstruksi Gapura Kleco
Gapura Kleco dibangun pada masa pemerintahan Pakubuwono X (PB X). Bangunan ini dibangun sebagai Kori Kitho, yaitu pembatas kota sekaligus gerbang masuk menuju pusat pemerintahan Keraton Solo. Pembangunan gapura ini dilakukan sebagai bentuk persembahan dari putra dan abdi dalem untuk memperingati 40 tahun kekuasaan Sunan Paku Buwono X yang naik tahta pada 1893. Meskipun ada perbedaan penanggalan antara sumber sejarah, secara umum dipercaya bahwa pembangunan gapura ini selesai sekitar tahun 1933.
Selain itu, beberapa catatan menyebutkan bahwa gapura ini juga dikenal dengan nama Gapura Kerten. Namun, meski terdapat perbedaan tahun, hal ini semakin memperkuat fakta bahwa gapura ini merupakan bagian dari bangunan monumental era PB X.
Revitalisasi dan Keaslian Bentuk
Seiring berjalannya waktu, Gapura Kleco mengalami perubahan. Beberapa tahun lalu, bangunan ini terlihat lebih kusam dan rusak. Namun, kini gapura ini telah direvitalisasi tanpa mengubah bentuk aslinya. Saat ini, gapura ini berdiri megah dengan cat warna putih yang mencerminkan kebersihan dan keindahan.
Revitalisasi ini dilakukan agar bangunan tetap bisa dinikmati oleh masyarakat dan pengunjung. Proses revitalisasi ini juga menjaga keaslian struktur dan ornamen yang ada, sehingga nilai sejarah dan budaya tetap terjaga.
Makna Filosofis dan Simbolisme
Gapura Kleco memiliki makna filosofis yang mendalam. Menurut tradisi Keraton Solo, gapura ini menjadi pengingat akan ampunan Tuhan. Orang yang melewati gapura ini diingatkan untuk selalu memohon ampun kepada Tuhan. Selain itu, dulu terdapat pohon aren di sekitar Gapura Jurug yang menjadi simbol pengingat manusia untuk senantiasa memohon ampun.
Ornamen ruji 11 pada gapura menggambarkan kawelasan ing Pangeran atau belas kasih Tuhan. Bentuk gapura yang menyerupai kupu tarung atau paduraksa melambangkan pertarungan antara sifat baik dan buruk dalam diri manusia hingga akhir hayat.
Keberadaan Gapura Lain di Keraton Solo
Saat ini, terdapat enam hingga tujuh gapura Keraton Solo yang tersebar di titik-titik utama, seperti Jurug, Mojo, Kandang Sapi, Jongke, dan dua titik di Grogol, Sukoharjo. Semua gapura tersebut memiliki bentuk dan makna serupa. Masing-masing gapura memiliki peran penting dalam sejarah dan budaya Keraton Solo.
Beberapa dari gapura ini telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah dan masyarakat setempat sangat menjaga warisan sejarah yang ada di Kota Solo.

Tinggalkan Balasan