JAKARTA, Aksaraintimes.id

Artificial intelligence (AI) kini semakin populer sebagai alat bantu dalam perencanaan liburan. Dengan cukup mengetik lokasi tujuan, chatbot bisa langsung merancang itinerary, merekomendasikan hotel dengan ulasan terbaik, hingga memberikan tips mengenai visa. Bahkan, AI juga bisa digunakan untuk memesan tiket tanpa harus membuka banyak situs maskapai. Terdengar seperti solusi ideal bagi para traveler modern, namun kenyataannya tidak selalu sempurna.

Menurut data dari Kaspersky, sebuah platform keamanan siber global yang menawarkan berbagai solusi dan layanan keamanan digital, hanya 28% pengguna AI yang benar-benar mempercayakan rencana liburannya kepada AI—meski sebagian besar, yaitu 96%, merasa puas dengan bantuan tersebut. Namun, masalah utama muncul karena chatbot tidak memiliki pengetahuan asli. Mereka hanya menyusun jawaban dari data yang pernah dipelajari, sehingga informasi bisa salah, kedaluwarsa, atau tidak relevan.

Beberapa chatbot memang sudah dilengkapi fitur penelusuran internet, tetapi akurasi dan kemampuan cek fakta masih belum sepenuhnya dapat diandalkan. Berikut beberapa risiko yang mungkin terjadi jika kita terlalu percaya pada AI dalam perjalanan:

1. Ketika AI Salah, Dampaknya Bisa Fatal

Kesalahan AI bukanlah hal baru—dan sering kali merugikan. Contohnya adalah kasus yang terjadi pada Maret 2025, ketika Mark Pollard dari Australia terbang menuju Chili untuk memberikan kuliah. Di check-in, ia ditolak karena tidak memiliki visa. Sebelumnya, Mark sudah bertanya kepada ChatGPT tentang aturan visa negara-negara Amerika Latin dan mempercayai jawabannya. Namun, kenyataannya, sejak 2019 warga Australia wajib memiliki visa untuk masuk Chili, sebuah informasi yang gagal dideteksi oleh chatbot.

Dalam kasus lain, seorang jurnalis justru diarahkan oleh AI untuk mengunjungi museum yang sudah hancur akibat kebakaran hutan. Kesalahan AI bahkan bisa menyesatkan pihak profesional. Pada 2024, staf bandara Manila mencoba menghentikan seorang penumpang yang ingin menuju Inggris karena hanya membawa paspor AS, meskipun ia adalah warga negara Inggris. Informasi keliru dari Google AI Overviews membuat staf salah mengambil keputusan, dan masalah baru terselesaikan setelah menghubungi kedutaan.

Untuk menghindari dikirim ke restoran tutup atau landmark yang sudah tidak ada, pengguna harus tetap mengecek informasi secara real-time. Tantangan lainnya adalah risiko menggunakan Wi-Fi publik saat berada di luar negeri. Jaringan terbuka di bandara, hotel, atau kafe rentan disadap. Cara yang lebih aman adalah menggunakan internet seluler melalui eSIM, tanpa perlu membeli SIM fisik.

2. Jangan Sembarangan Berbagi Data Pribadi

Platform AI populer seperti ChatGPT atau Gemini menyimpan permintaan pengguna. Artinya, jika terjadi bug atau kebocoran data besar, detail pribadi seperti jadwal liburan, anggaran, dan siapa yang bepergian bersamamu bisa terekspos. Situasi menjadi lebih rumit ketika perusahaan mulai menawarkan AI agent—sistem otomatis yang bisa bekerja sendiri, seperti memesan tur atau mengirim email pemberitahuan cuti. AI agent dapat mengakses layar komputer, terhubung ke layanan pihak ketiga, serta melakukan tindakan dalam browser.

Risikonya adalah kamu tidak hanya memberikan data pribadi, tetapi juga akses untuk melakukan tindakan yang tidak kamu inginkan. AI agent rentan terhadap prompt injection, yaitu perintah tersembunyi yang ditanam peretas dalam halaman web atau metadata. Serangan ini hampir mustahil dikenali secara manual.

Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu—bukan pengambil keputusan utama.

3. Cara Merencanakan Liburan dengan AI Secara Aman

Jika tetap ingin memanfaatkan AI untuk perjalanan, ada beberapa langkah penting agar tetap aman. Berikut beberapa rekomendasinya:

  • Jangan pernah memberikan informasi sensitif yang tidak ingin diketahui publik.
  • Selalu verifikasi informasi AI, terutama soal visa, jam buka lokasi wisata, dan tiket masuk.
  • Waspadai AI agent, karena rentan kebocoran data dan prompt injection.
  • Hindari Wi-Fi publik di bandara, hotel, atau kafe. Gunakan eSIM untuk internet aman di luar negeri.

Dengan memahami potensi risiko dan cara mitigasinya, AI tetap bisa menjadi partner perjalanan yang membantu—asal digunakan secara bijak.