Pengalaman Tragis Abdul Gani Zega Saat Longsor
Abdul Gani Zega (47), seorang kuli bangunan, masih terus mengingat kejadian mengerikan yang hampir merenggut nyawanya. Kejadian itu terjadi di Kelurahan Hajoran Induk, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Saat itu, longsor hampir saja membawa nyawanya dan keluarganya.
Pada saat kejadian, Abdul Gani tersujud di atas lumpur, dibawah bukit, di antara puing-puing bangunan rumahnya. Dari kejauhan, ia mendengar suara lirih adiknya, Amiruddin Zega, meminta tolong. Perlahan, ia bangkit dan berusaha mendekati adiknya. Namun, tenaganya habis. Ia tidak bisa menolong Amiruddin karena posisi adiknya terjepit dua tembok yang terdorong oleh longsoran dari bukit di belakang rumah.
Ia hanya mendengar suara lirih terakhir adiknya yang penuh harapan meminta diangkat dari reruntuhan. “Pendek cerita, saya sadar seperti terlempar dari lokasi itu sekitar 7 meter dan bersujud di antara air. Terdengar suara ‘tolong aku bang’”, kata Abdul Gani Zega, Jumat (12/12/2025).
Abdul Gani tak bisa berbuat banyak. Dengan berat hati dan perasaan bersalah, ia mencoba menenangkan adiknya yang meminta tolong. Tak lama kemudian suara gemuruh terdengar dari atas bukit, kembali menimbun adiknya bersama reruntuhan.
“Ku kejar adikku ini. Bunyi sekali lagi, rumah ini menjepit adik saya. Ngomong saya disitu, maaf dek, gak bisa aku menolong mu. Mungkin disini takdirmu,” ungkapnya menirukan perpisahannya dengan sang adik.
Setelah itu, Abdul Gani beranjak dari lokasi mencoba menemui dan meminta pertolongan kepada masyarakat. Dari kejauhan, anak perempuan Abdul Gani berlari mendatanginya dan berteriak mengenai kondisi ibunya, Siti Situmeang. Ternyata ibunya turut tertimbun longsor ketika berusaha menengok dan menolong Abdul Gani serta adik iparnya, Amiruddin Zega.
Mendengar itu, ia pun terpaku. Tubuh yang sudah berlumpur lemas mengetahui sang istri juga tewas tertimbun longsor. “Kurang lebih 10 langkah saya lihat-lihat sudah tidak ada lagi orang dan kemudian datang anak saya berlari,” ceritanya.
“Ayah-ayah. Mamak, mamak. Terbenam diseret lumpur,” katanya menirukan ucapan anaknya kala itu.
Peristiwa Tragis yang Terjadi Pada 25 November
Abdul Gani Zega menceritakan, peristiwa tragis yang merenggut nyawa adik kandungnya bernama Amiruddin Zega dan istrinya bernama Siti Situmeang terjadi pada Selasa 25 November lalu, pagi sekira pukul 10:00 WIB. Saat itu hujan memang tak berhenti-henti mengguyur wilayah perbukitan tersebut.
Sebelum longsor, ia sempat membersihkan saluran drainase di depan rumah agar tidak mampet. Di dalam rumah, istri, anak dan adiknya sedang berkumpul. Karena kondisi mulai tergenang, Abdul Gani menyuruh istri dan anaknya keluar dari rumah membawa dokumen berharga. Sedangkan ia dan adiknya, Amiruddin Zega tetap berada di dalam rumah, tanpa berpikir akan longsor.
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari kejauhan langsung mendorong rumah tetangga ke rumah mereka. Posisi Abdul Gani dan adiknya, Amiruddin Zega berada di dapur dan terjepit diantara 2 beton dinding rumah. Mereka sempat berusaha menyelamatkan diri lewat atap, namun dorongan semakin menjepit mereka.
Disaat terjepit, Amiruddin berulang kali mengeluhkan rasa sakit yang dirasakannya kepada abangnya. Abdul Gani mencoba menenangkan, mengelus kepala adiknya dan meletakkan tangannya dengan harapan, jika keduanya tewas, sama-sama ditemukan jasadnya.
Rupanya, Allah seperti berkehendak lain. Secara tak sadar, Abdul Gani merasa seperti mendapatkan mukjizat. Ia merasa seperti ditarik ke atas, keluar dari dua dinding yang menjepitnya hingga akhirnya selamat.
Saat itu, ia tak menyangka akan selamat. Bahkan, ia sudah berulang kali mengucapkan dua kalimat syahadat dan memohon ampunan dari segala dosa, sebelumnya nyawanya dicabut.
“Ya Allah ya Tuhanku, kalau ini takdir kami, saya sudah pasrah. Tetapi sebelum saya meninggal, ampuni segala dosa saya. Saya mengucap 2 kalimat syahadat,” ungkapnya.
Pencarian Jenazah Istri yang Dramatis
Sedangkan tewasnya sang istri, lanjut Gani, karena mau menolong mereka berdua. Namun saat itu longsor turut serta menimbunnya. Jenazah adiknya kurang lebih ditemukan sore harinya di lokasi yang sama. Sedangkan istrinya ditemukan beberapa hari kemudian.
Pencarian jasad sang istri begitu dramatis karena berhari-hari dicari warga tak juga ditemukan meski lokasinya diyakini sudah tepat. Selama itu pula, Gani berdoa agar jasad istri tercinta ditemukan.
“Saya selalu berdoa, jangan kasih cobaan lagi. Paling tidak temukan jasadnya biar kami kebumikan.”
Ketika proses pencarian yang dilakukan warga sekitar, turut serta dua anaknya. Sedangkan Abdul Gani berada di rumah tetangga karena kondisi kakinya terluka.
Jasad Siti Situmeang ditemukan ketika anak terakhir mereka dipanggil warga, disuruh berdoa dan memanggil nama sang ibu, sembari meminta agar menunjukkan diri. Sambil menangis, anak terakhir mereka 2 kali memanggil nama ibunya.
Berselang 1 menit, darah berwarna merah muncul dari dalam tanah yang menandakan ada mayat di dalam. Kemudian, di lokasi itu dikorek ramai-ramai dan akhirnya jasad istri Abdul Gani Zega ditemukan.
“Dua kali anak kami ini memanggil sambil nangis, datang la mamak, tunjukkan posisi mamak. Datanglah mamak, Mak. Gak sampai 1 menit keluar darah dari bawah tanah.”

Tinggalkan Balasan