Site icon Aksaraintimes.id

Transisi Energi Butuh Pendanaan Hijau

Komitmen Transisi Energi dan Peluang Pasar Global

Indonesia memiliki peran penting dalam memperkuat komitmen transisi energi, terutama melalui pembiayaan hijau. Hal ini menjadi kunci untuk tetap kompetitif di pasar global. Seorang akademisi dari Universitas Indonesia, Toto Pranoto, menyoroti bahwa aktivitas ekspor negara berkembang, termasuk Indonesia, masih sangat bergantung pada pasar negara maju yang menerapkan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG) secara ketat.

“Namun, masih ada kesenjangan antara tuntutan pasar global dengan kinerja ESG di negara berkembang,” ujar Toto dalam sebuah forum bisnis yang bertajuk ‘Mendorong Transformasi Pembiayaan Hijau: Arah Baru Keuangan Berkelanjutan di Era Transisi Energi’, pada Jumat (21/11/2025).

Berdasarkan data Boston Consulting Group (BCG) 2023, Toto menyatakan bahwa pasar negara berkembang masih tertinggal dalam memenuhi ketiga pilar ESG. “Ini adalah PR bagi kita untuk memperkuat pilar-pilar ini ke depan,” katanya.

Toto juga mengingatkan bahwa mengabaikan isu iklim dan transisi energi dapat berdampak buruk pada perekonomian. Krisis iklim diperkirakan akan menggerus hingga 15% dari Produk Domestik Bruto (PDB) berbagai negara pada 2050.

Di sisi lain, Toto menekankan bahwa transisi energi harus dilihat sebagai peluang ekspansi pasar. Perusahaan yang menerapkan prinsip keberlanjutan mendapatkan respons positif dari pasar. Data menunjukkan bahwa perusahaan pionir iklim mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan gabungan yang lebih tinggi dibandingkan ribuan perusahaan lain di pasar berkembang.

“Data ini menunjukkan apresiasi pasar terhadap perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan bisnis berbasis transisi energi,” paparnya.

Sebagai contoh, perusahaan pionir iklim di sektor konsumen tumbuh 14% pada periode 2016–2021. Sementara itu, perusahaan energi “hijau” mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yaitu 20%, dibandingkan dengan perusahaan pasar berkembang lainnya yang hanya 14%.

Tantangan di Sektor Energi

Sayangnya, kondisi sektor energi di Tanah Air masih menjadi tantangan besar. Merujuk laporan Yayasan Indonesia Cerah berjudul ‘Does Indonesian Banking Still Support Coal?’ menyebutkan bahwa bauran energi listrik Indonesia masih didominasi bahan bakar fosil. Kondisi ini diproyeksikan akan berlanjut setidaknya hingga 2043. Energi terbarukan baru diperkirakan akan mendominasi bauran energi pada 2044 dengan porsi sekitar 51,6%.

Mencapai target tersebut bukanlah hal yang mudah dan murah. Sektor hijau membutuhkan pembiayaan dan investasi yang besar, namun hal ini masih terhambat oleh regulasi yang dinilai tidak konsisten. Toto juga menyoroti perlunya langkah tegas pemerintah untuk mendorong lebih banyak proyek hijau, karena pertumbuhan pembiayaan hijau saat ini belum diimbangi dengan pertumbuhan proyek yang memadai.

“Negara melalui instrumennya, seperti Danantara dan berbagai anak perusahaannya, dapat memainkan peran signifikan dalam mendorong transisi energi ini,” pungkas Toto.

Exit mobile version