Belanja Bijak, Kunci Menjaga Stabilitas Ekonomi Rumah Tangga
Di tengah situasi lonjakan harga menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, banyak masyarakat memilih untuk berbelanja dengan perencanaan matang. Salah satu contohnya adalah Aprillia (35), seorang ibu rumah tangga asal Purwokerto, yang rutin mengatur kebutuhan dapur dengan anggaran sebesar Rp200 ribu per minggu.
Belanja terencana menjadi strategi utamanya untuk memastikan dapur tetap berasap tanpa harus khawatir terhadap kenaikan harga. Dengan menyiapkan bahan makanan selama seminggu, ia menghindari pembelian mendadak atau panic buying yang sering terjadi di akhir tahun.
Perilaku Konsumsi Masyarakat yang Berkembang
Geliat belanja masyarakat di wilayah eks-Karesidenan Banyumas mulai meningkat menjelang Nataru. Fenomena ini menjadi perhatian khusus Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto karena berpotensi memicu tekanan harga dan inflasi daerah jika tidak disikapi secara bijak.
Bank Indonesia menilai bahwa lonjakan konsumsi tanpa perencanaan dapat menyebabkan ketidakseimbangan permintaan dan pasokan di pasar. Oleh karena itu, KPwBI Purwokerto secara konsisten mengajak masyarakat untuk menerapkan pola belanja bijak.
Pola Belanja Bijak yang Efektif
Belanja bijak dinilai sebagai langkah sederhana namun efektif dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga sekaligus membantu mengendalikan inflasi daerah. Selain menahan konsumsi, belanja bijak juga menekankan pentingnya memahami prioritas pengeluaran.
Masyarakat didorong untuk menyusun anggaran belanja, menghindari panic buying, memanfaatkan promo secara cerdas, serta mendukung produk UMKM lokal sebagai bagian dari konsumsi yang bertanggung jawab.
Contoh Penerapan Belanja Bijak
Aprillia (35) memberikan contoh penerapan belanja bijak yang baik. Ia mengaku rutin berbelanja kebutuhan dapur seminggu sekali dengan perencanaan matang. Anggarannya sekitar Rp200 ribu, sudah termasuk ayam, ikan, dan udang yang dibagi untuk satu minggu.
Telur selalu tersedia sebagai stok di rumah, dengan kebutuhan sekitar 1 hingga 2 kilogram per minggu. Sementara untuk sayuran, ia menyesuaikan dengan menu harian dan memanfaatkan kebun rumah sebagai sumber tambahan.
“Kalau akhir tahun ada acara bakar-bakaran, itu di luar belanja bulanan. Saya tidak pernah panic buying. Kalau ayam habis, masih ada alternatif protein lain,” katanya.
Penggunaan Transaksi Non-Tunai
Selain perencanaan belanja, Bank Indonesia juga terus mendorong penggunaan transaksi non-tunai melalui QRIS sebagai metode pembayaran yang aman, praktis, dan efisien.
Langkah belanja bijak dapat dimulai dari lingkungan keluarga, dengan membiasakan mengecek kebutuhan sebelum berbelanja serta memastikan jumlah barang yang dibeli sesuai kapasitas konsumsi.
Keberlanjutan Belanja Bijak
Menyesuaikan pengeluaran dengan anggaran, menyisihkan dana untuk menabung dan bersedekah, serta memahami kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) juga menjadi bagian penting dari konsumsi yang bertanggung jawab.
HET berfungsi sebagai instrumen perlindungan konsumen sekaligus menjaga kepentingan pedagang agar harga tetap stabil dan terjangkai di pasaran.
Kegiatan Kolaboratif untuk Mengendalikan Inflasi
Tidak berhenti pada imbauan, KPwBI Purwokerto juga melakukan langkah konkret melalui sinergi bersama Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk penyelenggaraan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan/atau Pasar Murah di momen akhir tahun.
Kegiatan ini dilaksanakan setidaknya 2 (dua) kali setiap bulannya di kuartal terakhir menjelang akhir tahun. Melalui program pasar murah serupa, Pemkab Banyumas, Bank Indonesia Purwokerto, dan berbagai instansi/OPD yang tergabung pada TPID Kabupaten Banyumas mengharapkan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tantangan inflasi.
Beragam Kebutuhan Pokok yang Disediakan
Beragam kebutuhan pokok disediakan dalam Pasar Murah tersebut, mulai dari minyak goreng, tepung terigu, telur, olahan daging, gula pasir, hingga aneka sayuran. Seluruh komoditas dijual dengan harga terjangkau agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhan tanpa khawatir lonjukan harga.
Kegiatan kolaboratif ini bertujuan meringankan beban ekonomi masyarakat sekaligus mempertahankan daya beli di tengah tekanan inflasi. Sinergi lintas instansi ini dinilai sebagai wujud nyata upaya bersama menjaga inflasi tetap terkendali di Banyumas.
Harapan Bank Indonesia
Melalui pendekatan edukatif dan aksi nyata, Bank Indonesia Purwokerto berharap kesadaran belanja bijak tidak hanya tumbuh saat momentum Nataru, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari demi menjaga stabilitas ekonomi daerah.

