Site icon Aksaraintimes.id

Strategi ESDM tingkatkan produksi minyak 2026

Potensi Investasi Hulu Migas Indonesia Tahun Depan

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa potensi investasi di sektor hulu migas pada tahun depan akan semakin menarik. Hal ini didorong oleh berbagai kebijakan yang ditawarkan pemerintah, termasuk perubahan dalam fiscal terms yang lebih menguntungkan bagi para investor.

Salah satu perubahan utama adalah peningkatan split kontrak kerja sama (KKKS) dari sebelumnya 15–30% menjadi hingga 50%. Selain itu, fleksibilitas kontrak migas juga ditingkatkan, memungkinkan KKKS memilih antara cost recovery atau gross split. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik investasi di sektor hulu migas.

Selain itu, pemerintah memberikan berbagai insentif tambahan, seperti optimalisasi produksi, pembebasan pajak tidak langsung selama masa eksplorasi, serta skema kemitraan melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025. Skema ini memfasilitasi kerja sama operasi dan teknologi produksi antara pemerintah dan pelaku usaha.

Pemerintah juga aktif dalam memfasilitasi percepatan perizinan dan birokrasi lintas instansi. Selain itu, pemerintah melakukan eksplorasi langsung dengan pendanaan APBN, termasuk survei seismik, untuk mengurangi risiko eksplorasi dan mendorong minat investor.

Blok Migas Baru dan Aktivitas Eksplorasi

Sejak akhir 2024 hingga akhir 2025, sebanyak 75–89 potensi blok migas baru akan dibuka untuk investor. Dari jumlah tersebut, 19 blok telah diminati. Aktivitas joint study eksplorasi juga meningkat, saat ini sekitar 40 joint study sedang berjalan.

Beberapa perusahaan migas global, seperti Total dan Shell, menunjukkan kembali minat untuk berinvestasi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi target penting bagi pengusaha migas internasional.

Target Lifting Minyak Nasional

Pemerintah menargetkan lifting minyak nasional pada tahun 2026 sebesar 610 ribu barel per hari (bopd). Yuliot menyatakan optimisme bahwa target tersebut dapat tercapai, mengingat kinerja yang baik pada tahun ini.

Pertamina diperkirakan akan menyumbang lebih dari 60% produksi nasional, terutama dari Blok Rokan. Sementara itu, Blok Cepu yang dikelola oleh Exxon dan Pertamina tetap menjadi kontributor utama. Pemerintah akan mendorong SKK Migas dan KKKS untuk melakukan reaktivasi lapangan atau sumur idle, serta memaksimalkan produksi dari sumur masyarakat melalui skema Permen 14/2025.

Peluang Investasi yang Masih Besar

Peluang investasi di sektor hulu migas masih sangat besar. Dari 128 cekungan migas di Indonesia, hanya 20 yang telah berproduksi. Pemerintah mendorong eksplorasi masif sambil meningkatkan tingkat keberhasilan eksplorasi (success ratio) yang saat ini baru sekitar 14%.

Selain itu, pemerintah menekankan perlunya penyempurnaan fiskal terms, regulasi, dan percepatan perizinan agar kepastian investasi lebih terjamin. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan sektor hulu migas Indonesia akan terus berkembang dan menarik minat investor.

Exit mobile version