Site icon Aksaraintimes.id

Ribuan Hektar Tambak Udang Belum Dimanfaatkan, Bupati Basel Dorong KDMP Ikut Kelola

Potensi Ekonomi Desa Melalui Tambak Udang dan Perkebunan Kelapa Sawit

Di Kabupaten Bangka Selatan, terdapat ribuan hektar tambak udang yang tersebar di berbagai wilayah. Menurut Bupati Bangka Selatan, Riza Herdavid, potensi ekonomi dari sektor perikanan budidaya ini sangat besar, terlebih dalam konteks efisiensi anggaran nasional. Meski sebagian tambak belum sepenuhnya tertata secara regulasi, hal ini tidak menghalangi upaya untuk memperkuat perekonomian masyarakat desa melalui kolaborasi antara pemerintah, koperasi desa, dan pelaku usaha.

Kolaborasi sebagai Kunci Pengembangan Ekonomi Desa

Salah satu strategi utama yang digencarkan oleh Pemkab Bangka Selatan adalah melibatkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih dalam pengelolaan tambak udang yang sudah berjalan. Dengan demikian, pemerintah daerah tidak perlu memulai dari nol, tetapi bisa memperkuat sistem yang sudah ada.

Berdasarkan data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), saat ini terdapat 44 perusahaan tambak udang yang telah beroperasi di Kabupaten Bangka Selatan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pergerakan sudah mencapai sekitar 50 persen. Tinggal memperkuat kolaborasi dengan para pengusaha agar KDMP dan Kampung Nelayan Merah Putih menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat.

Perkebunan Kelapa Sawit sebagai Peluang Tambahan

Selain sektor perikanan, Riza Herdavid juga menyoroti peluang besar di sektor perkebunan kelapa sawit. Saat ini, Kabupaten Bangka Selatan memiliki sekitar sembilan pabrik Crude Palm Oil (CPO). Lima di antaranya akan segera berdiri di sejumlah desa, sementara empat perusahaan sudah beroperasi.

Keberadaan industri tersebut dinilai harus dimanfaatkan oleh pemerintah desa untuk menghidupkan dan memperkuat KDMP. Unit usahanya sudah ada, tinggal bagaimana pergerakan kepala desa dalam memanfaatkannya.

Skema Kolaborasi yang Berkelanjutan

Skema kolaborasi lanjut dia, bisa menjembatani kepentingan pengusaha, koperasi desa, dan masyarakat. Pengusaha tetap menjalankan bisnisnya, sementara koperasi desa dilibatkan dalam rantai usaha, baik sebagai mitra pengelola, penyedia tenaga kerja, hingga penguatan distribusi hasil produksi.

Menurut Riza Herdavid, model tersebut sejalan dengan visi Presiden dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat berbasis ekonomi kerakyatan. Ketika koperasi desa diberi peran strategis, maka manfaat ekonomi akan lebih merata dirasakan masyarakat di tingkat bawah.

Tantangan dan Harapan untuk Kepala Desa

Namun, yang masih menjadi tantangan saat ini ada pada pergerakan dan inisiatif kepala desa dalam memanfaatkan peluang tersebut. Kepala desa tidak hanya menjadi administrator pemerintahan, tetapi juga motor penggerak ekonomi desa.

Riza Herdavid turut membuka peluang agar pengusaha yang berinvestasi di Kabupaten Bangka Selatan turut berkontribusi dalam bentuk subsidi modal bagi koperasi desa. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Jika pola kolaborasi ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat, Bangka Selatan berpeluang menjadi daerah percontohan pelaksanaan program ekonomi kerakyatan berbasis desa.

Keuntungan Kolaborasi yang Jangka Panjang

Kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan koperasi desa bukan hanya sekadar upaya efisiensi anggaran, tetapi juga strategi jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya keterlibatan aktif koperasi desa, masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari pengembangan ekonomi lokal.

Selain itu, model ini juga memberikan kesempatan bagi pengusaha untuk berkontribusi secara sosial tanpa mengorbankan keuntungan bisnis mereka sendiri. Dengan begitu, tercipta keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Exit mobile version