Site icon Aksaraintimes.id

Penemuan Langka Bayi Hiu Paus di Teluk Saleh, Harapan Baru Konservasi Laut NTB

Penemuan Bayi Hiu Paus di Teluk Saleh, Sumbawa

Teluk Saleh, yang terletak di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi pusat perhatian setelah ditemukan bayi hiu paus langka. Temuan ini memberikan indikasi kuat bahwa kawasan tersebut memiliki potensi sebagai area pengasuhan hiu paus pertama di dunia.

Penemuan ini tidak hanya memperkuat urgensi konservasi Teluk Saleh, tetapi juga membuka peluang untuk pengembangan wisata dan ekonomi pesisir berbasis lingkungan. Dengan adanya temuan ini, masyarakat dan pemerintah diharapkan lebih aktif dalam menjaga lingkungan khususnya ekosistem kelautan.

Potensi Konservasi dan Pengembangan Wisata

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutan) NTB, Muslim, menyampaikan bahwa keberadaan bayi hiu paus menjadi indikator bahwa sumber daya kelautan di kawasan tersebut masih baik. Hal ini membuat beberapa biota laut berkembang dengan baik. Teluk Saleh telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia dan memiliki komoditi seperti udang dan ikan-ikan karang.

Muslim berharap masyarakat dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan khususnya ekosistem kelautan. Ia menegaskan bahwa hasil penelitian ini sangat langka di dunia dan menjadi daya tarik bagi para pemerhati, akademisi, serta aktivis yang menggeluti biota laut yang dilindungi.

Pemerintah Prancis memberikan pendanaan untuk mengembangkan kawasan Teluk Saleh. Saat ini, alat pendeteksi telah dipasang untuk memantau pergerakan hiu paus di kawasan tersebut. Teluk Saleh merupakan salah satu tempat migrasi hiu paus dengan durasi cukup lama, didukung oleh pasokan makanan yang cukup banyak.

Upaya Konservasi dan Regulasi

Muslim menyampaikan bahwa keberlangsungan hiu paus harus dijaga dengan mematuhi Peraturan Gubernur Nomor 100 Tahun 2023 tentang Tata Kelola Hiu Paus Berbasis Lingkungan. Jika tidak dijaga, potensi ini bisa hilang dan berpindah ke tempat lain. Lokasi migrasi hewan bernama latin Rhincodon typus ini sangat langka.

Saat ini, Teluk Saleh sudah memberikan dampak nyata bagi perputaran ekonomi di kawasan tersebut. Meskipun pengelolaannya belum maksimal, setiap pengunjung yang masuk ke kawasan tersebut di patok harga Rp25 ribu. Jika kedepan ini dibuat dalam bentuk paket wisata, dampaknya akan jauh lebih besar lagi.

Awal Mula Penemuan Bayi Hiu Paus

Pada Agustus hingga September 2024, nelayan lokal melaporkan melihat sedikitnya lima kali kemunculan hiu paus kecil berukuran 1,2–1,5 meter di sekitar bagan. Salah satu individu sempat terjaring tanpa sengaja sebelum dilepaskan kembali ke laut.

Dalam kejadian tersebut, bayi hiu paus sempat berada di dalam boks styrofoam berisi air laut, yang memungkinkan nelayan melakukan estimasi ukuran tubuh secara presisi menggunakan analisis visual berbasis objek pembanding. Dengan dimensi boks 120x42x32 sentimeter, panjang total hiu paus itu diperkirakan sekitar 135–145 sentimeter.

Berdasarkan kurva pertumbuhan dari studi Chang et al. (1997) yang mendokumentasikan pertumbuhan neonatal hiu paus dari 60 sentimeter menjadi hampir 140 centimeter dalam waktu sekitar 120 hari, ukuran bayi baru lahir hiu paus Teluk Saleh ini mengindikasikan usia sekitar empat bulan. Artinya, bayi hiu paus tersebut masih berada pada fase kehidupan yang sangat dini dan sangat jarang berhasil teramati di alam bebas.

Konfirmasi Ilmiah dan Langkah Konservasi

Secara ilmiah, ini adalah sinyal yang sangat kuat dan mengindikasikan bahwa Teluk Saleh kemungkinan besar memiliki fungsi ekologis sebagai area melahirkan dan pengasuhan anakan hiu paus. Jika nantinya terbukti sebagai lokasi melahirkan, maka Teluk Saleh akan menjadi lokasi pertama di dunia yang pernah teridentifikasi secara pasti.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa secara ilmiah Teluk Saleh saat ini masih berada pada status strong potential pupping ground dan belum dapat disebut sebagai lokasi kelahiran yang terkonfirmasi sepenuhnya. Butuh beberapa bukti yang masih dibutuhkan untuk memastikannya.

Konservasi Indonesia bersama para mitra tengah bekerja sama dengan otoritas pemerintah untuk membentuk kawasan konservasi perairan (Marine Protected Area/MPA) berbasis hiu paus pertama di Indonesia, di Teluk Saleh. Dengan temuan ini, status kawasan penting Teluk Saleh berpotensi ditingkatkan menjadi lebih tinggi, dan menjadikannya sebagai dasar ilmiah yang lebih kuat untuk perlindungan resmi.

Ancaman dan Tantangan

Meski memiliki potensi ilmiah yang luar biasa, bayi hiu paus di Teluk Saleh juga menghadapi risiko yang nyata seperti jerat jaring nelayan, penurunan kualitas air akibat aktivitas pesisir, serta meningkatnya lalu lintas kapal yang dapat menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup bayi hiu paus yang masih sangat rentan.

Iqbal menilai, tingkat kelangsungan hidup pada fase awal ini akan sangat menentukan masa depan populasi hiu paus secara global. Dari temuan ini, Konservasi Indonesia berencana dapat melakukan pemantauan lanjutan untuk mengonfirmasi bayi dan anakan hiu paus ini reguler bukan kebetulan, memperluas sistem pelaporan berbasis masyarakat, serta memajukan rencana pembentukan MPA berbasis hiu paus yang melindungi spesies ini, sekaligus memperkuat konservasi berbasis komunitas. Terlebih, kemunculan bayi hiu paus ini pertama kali dilihat oleh para nelayan.

Exit mobile version