Site icon Aksaraintimes.id

Pembicaraan AS-Iran di Pakistan Gagal, Trump Larang Blokade Selat Hormuz, Apa Dampaknya?

Kegagalan Pembicaraan AS-Iran dan Ancaman Blokade Selat Hormuz

Pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan akhirnya gagal setelah 21 jam negosiasi. Kegagalan ini memicu langkah tegas dari Presiden AS Donald Trump yang langsung mengumumkan rencana untuk memblokade Selat Hormuz. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak ekonomi dan politik global.

Langkah Tegas Trump: Blokade Selat Hormuz

Trump mengumumkan melalui platform Truth Social bahwa Angkatan Laut AS akan segera memulai proses memblokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa pada suatu titik, kondisi “semua diizinkan masuk, semua diizinkan keluar” akan tercapai, tetapi saat ini Iran belum memberikan izin.

Perintah tersebut resmi diberikan kepada Angkatan Laut AS dan mulai berlaku pada Senin (13/4/2026) pukul 10.00 waktu Eastern Standard Time (EST). Blokade ini secara khusus ditujukan pada kapal-kapal yang menuju atau berasal dari Iran. Trump juga menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran melakukan perdagangan minyak secara selektif. Ia menyebutkan bahwa situasi ini akan menjadi “all or none” (semua atau tidak sama sekali).

Selain itu, Trump memerintahkan militer AS untuk menghancurkan ranjau-ranjau yang dipasang oleh Iran di perairan tersebut. Ia juga memberikan peringatan keras bahwa siapa pun dari pihak Iran yang berani menyerang kapal AS atau kapal sipil akan dihancurkan seketika.

Gagalnya Negosiasi dan Perubahan Target

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa pembicaraan tingkat tinggi dengan AS di Islamabad disebut sebagai keterlibatan paling intensif antara kedua negara dalam 47 tahun. Ia menyatakan bahwa Iran berpartisipasi dengan itikad baik untuk mengakhiri permusuhan yang sedang berlangsung. Namun, ia mengklaim bahwa diskusi telah mencapai ambang potensi nota kesepahaman, tetapi ketika hanya beberapa inci dari “MoU Islamabad”, mereka menghadapi maksimalisme, perubahan target, dan blokade.

Araghchi menegaskan bahwa tidak ada pelajaran yang didapat dari negosiasi ini. Ia menambahkan bahwa niat baik melahirkan niat baik, sementara permusuhan melahirkan permusuhan.

Penyebab Kegagalan Negosiasi

Negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan karena Iran menolak sejumlah syarat yang diajukan AS. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa meskipun ada kesepahaman mengenai sejumlah isu, terdapat dua hingga tiga hal penting yang berbeda pandangan dari kedua belah pihak. Baqaei mengatakan bahwa negosiasi berlangsung dalam suasana ketidakpercayaan dan kecurigaan setelah kedua belah pihak terlibat perang selama 40 hari.

Alasan Trump Mengambil Langkah Ini

Iran secara bertahap mengizinkan beberapa kapal tanker melewati Selat Hormuz dengan imbalan biaya hingga $2 juta (Rp34 miliar) per kapal. Lebih lanjut, Iran berhasil mengekspor rata-rata 1,85 juta barel minyak mentah per hari hingga Maret 2026. Dengan menutup selat tersebut, Trump dapat memutus sumber pendanaan utama bagi pemerintah dan operasi militer Iran.

Blokade ini juga akan membuat harga minyak melonjak di seluruh dunia. Minyak apa pun yang mengalir keluar dari wilayah tersebut saat ini dapat membantu menjaga harga minyak setidaknya sampai batas tertentu. Faktanya, pada bulan Maret, AS memberikan izin sementara kepada Iran untuk menjual minyak yang telah tersimpan di atas kapal tanker.

Dampak Ekonomi Global

Pernyataan terbaru Trump langsung menimbulkan efek reaksi seketika terhadap pasar finansial global. Ancaman blokade yang diumumkan Trump langsung melecut lonjakan harga komoditas energi secara tajam. Harga minyak Brent terpantau naik 8 persen menjadi 102 dolar AS per barel atau sekitar Rp1.743.180. Kenaikan serupa terjadi pada minyak mentah AS yang menyentuh angka 104 dolar AS per barel atau sekitar Rp1.777.360.

Di tingkat konsumen, harga bensin di AS diprediksi akan terus meroket melampaui rata-rata saat ini yang berada di angka 4,12 dolar AS per galon atau sekitar Rp70.410.

Seruan Buka Selat Hormuz

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyerukan agar Selat Hormuz dibuka dan mengatakan bahwa AS tidak meminta bantuan Australia untuk memblokadenya. Albanese mengatakan bahwa mereka belum menerima permintaan apa pun dan bahwa pengumuman ini dilakukan secara sepihak. Ia juga menyatakan bahwa yang ingin dilihat adalah negosiasi terus berlanjut dan konflik berakhir serta Selat Hormuz dibuka untuk semua.


Exit mobile version