“Mas… Kesini deh! Lihat nih ada notifikasi dari admin Aksaraintimes.id,” kataku dengan semangat mengajak anak kedua untuk melihat layar laptop.
Mas segera mendekat dan lihat pesan dari admin Aksaraintimes.id, “Selamat! Kamu telah memenuhi syarat menjadi kandidat Kompasianer Terverifikasi (Centang Biru). Kami akan meninjau kembali profilmu. Pastikan data identitasmu sudah dilengkapi ya.”
Ia langsung mengulurkan tangannya, “Selamat ya Bu … Wah senangnya.”
“Alhamdulillah … Ya, sejak menjadi anggota tahun 2009 di bulan Januari, akhirnya bisa juga mendapat tanda biru,” kataku sambil tersenyum lebar.
“Wow … Benar Bu, sudah lebih dari 15 tahun menjadi Kompasianer. Mengapa ada kategori biru segala sih? Apa keistimewaannya?” tanya Mas seperti tidak percaya.
Sabtu, 18 Oktober 2025 saya telah memenuhi satu syarat untuk menjadi ‘Kompasianer Centrang Biru’, yaitu telah minimal menayangkan 100 artikel dan rasio pencapaian Artikel Utama 20% atau 20 artikel Headline. Oh ya, sebelumnya saya sudah mendapatkan Centrang Hijau. Kemudian per tanggal 1 Desember 2024, kategori Centrang Hijau dihapus.
Ini adalah artikel ke-20 yang mendapatkan Headline:Rute Khusus Bersepeda di Yogyakartaditerbitkan tanggal 17 Oktober 2025.
Sebelumnya pada tanggal 13 Oktober 2025, artikelku tentang Jogja-ITB PlesiRide juga mendapat headline. Tentu saja membuat aku senang. Artikelku bukan langganan headline. Dari 980 artikel sudah 348 yang menjadi pilihan, sekitar 35% saja.
Jika ada yang bertanya, “Teh Dewi rajin menulis di blog pribadi atau Aksaraintimes.id untuk apa sih?”
“Aku senang menulis bukan untuk mendapatkan pembaca atau diberi rating dan kategori tertentu,” jawabku santai.
Sampai saat ini aku menulis karena memang ingin menulis, ingin berbagi pengalaman, semoga bermanfaat bagi pembaca. Artikel yang aku tulis akan menjadi amal kebajikan hingga akhir hayat, bahkan setelah tidak ada juga berharap masih memberikan manfaat. Maka tulislah sesuatu yang dianggap akan menjadi amal jariah, bukan menulis sesuatu yang menjadi amal salah.
Ada pengalaman menarik dan nasihat yang hingga kini selalu aku ingat saat bertemu dengan jurnalis senior Voice Of America (VOA) Abdul Nur Adnan, yang biasa aku panggil akrab Pade Nur. Pertemuan di rumah seorang sepupu yang berprofesi sebagai pengacara diisi dengan diskusi yang hangat. Saat itu beliau baru saja meluncurkan sebuah novel berjudul ‘Kelinting di Atas Jendela’.
Artikel lengkap pertemuan saya dengan Pade Nur ada di tautan berikut:Semangat Menulis dari Jurnalis Senior VOA
Nasihat beliau sangat mendalam, “Menulis … Menulis … Teruslah menulis ya Dewi. Jangan lupa membaca buku. Tulisan tidak akan memiliki jiwa jika kita malas membaca. Jari-jari ini akan kaku jika otak tidak terisi. Seringlah menjelajah agar memiliki bekal empati saat menuliskan sesuatu.”
Masyaallah … Sungguh beruntung aku bisa berbincang selama lebih dari dua jam dengan beliau. Terlebih aku diberi hadiah novel karya beliau dan tanda tangan beserta ucapannya. Aku juga memberikan beliau kenang-kenangan sebuah buku antologi yang berisi tulisanku tentang ITB bersama teman-teman alumni perempuan lintas jurusan dan berbagai angkatan.
Kita kembali ke pertanyaan Mas, “Apa keistimewaan Kompasianer Centrang Biru?”
Jujur aku tidak tahu … Apakah ada keistimewaan yang melekat pada Kompasianer Terverifikasi ini? Rasanya pernah juga ingin ada tanda biru yang melekat pada nama akun Dewi Laily Purnamasar. Namun aku langsung menolak jauh-jauh hehehe … Selain agar tidak terlalu berpikir berlebihan saat menulis artikel di Aksaraintimes.id, aku juga ingin murni saja menulis itu untuk bermanfaat. Bukan untuk mendapatkan tanda biru.
Sudah teruji secara waktu ya … Aku sudah menjadi anggota Aksaraintimes.id selama 15 tahun. Pernah mengikuti acara Kompasianival dan bertemu dengan Om Tjip dan Tante Lina, yang menjadi inspirasiku dalam menulis. Ada momen istimewa saat bekerja sama dengan Mba Christie Damayanti di ID-Kita Aksaraintimes.id di Yogyakarta. Kami melakukan sosialisasi tentang internet sehat bagi pelajar SMA dan mahasiswa. Pernah menang lomba menulis tentang ayam dan telur, alhamdulillah juara 3 dengan hadiah 1 juta rupiah hehehe … Sekali juga dihubungi admin Aksaraintimes.id untuk menjadi penulis dari sebuah produk kreativitas bagi anak-anak. Wah, sangat menyenangkan menulis selain dibayar juga mendapat hadiah mainan yang disukai anakku, Teteh.
Artikel pertemuan saya dengan mereka ada di tautan berikut:Kaget! Bertemu Om Tjip dan Tante Lina, Dua Pasangan Penulis Hebat Aksaraintimes.id
Sekali lagi, aku menulis karena senang berbagi. Mungkin berbagi harta tidaklah seberapa kaya hehehe … Selain mengajar di kampus Universitas Catur Insan Cendekia (UCIC) Cirebon yang mengharuskan menulis modul atau bahan kuliah dan jurnal ilmiah, menulis di blog pribadi dan Aksaraintimes.id adalah proses sejalan beriringan yang saling menguatkan.
Saya tahu, memang di Indonesia budaya literasi masyarakatnya masih rendah. Apalagi membaca jurnal ilmiah atau artikel panjang tentang suatu topik, apalagi buku tebal ratusan halaman. Bahkan membaca isi suatu blog atau artikel pendek di media online atau koran/majalah kadang hanya sekilas atau hanya judulnya saja. Bukan begitu kenyataannya?
Nah, menurut pendapatku, dengan menulis di blog pribadi dan Aksaraintimes.id yang berisi hal-hal ringan, populer, atau menyederhanakan hasil penelitian yang sudah aku ajukan dan terbit di jurnal ilmiah, harapannya bisa lebih banyak masyarakat yang membacanya. Literasi bisa lebih meningkat. Ada beberapa topik tentang materi kuliah terkait manajemen dan bisnis serta pendidikan yang aku tulis di Aksaraintimes.id. Alhamdulillah ada juga yang menjadi headline dan pembacanya ratusan bahkan puluhan ribu.
Artikel yang telah dibaca 45.000 orang ada di tautan berikut:20 Metode Mengajar Agar Menjadi Guru yang Keren dan Terkenal
Ini 8 Artikel Saya yang Masuk Headline Di Aksaraintimes.id
Ini 7+1 Artikel Saya Yang Masuk Headline Di Aksaraintimes.id
Aku akan membuat artikel lagi untuk merangkum 20 Artikelku yang masuk headline di Aksaraintimes.id. Sebagai semangat pribadi dan semoga bisa menyebar inspirasi.

