Pendapatan BRMS Tetap Stabil Meski Ada Bea Keluar untuk Emas
Pendapatan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dipastikan tetap stabil meskipun pemerintah berencana mengenakan bea keluar untuk produk emas mulai tahun 2026. Hal ini terjadi karena seluruh penjualan emas perusahaan dialirkan ke pasar domestik.
Pemerintah telah menyiapkan regulasi yang akan diterapkan pada ekspor emas, dengan tarif berkisar antara 7,5% hingga 15%. Regulasi ini diharapkan bisa memberikan kontribusi pendapatan bagi negara sejak awal tahun 2026. Kementerian Keuangan menyatakan bahwa rancangan Peraturan Menteri Keuangan (RPMK) sedang dalam tahap finalisasi. Produk emas yang akan dikenai bea keluar berasal dari usulan Kementerian ESDM.
Presiden Direktur BRMS, Agoes Projosasmito, menjelaskan bahwa seluruh pendapatan saat ini berasal dari penjualan emas dan perak ke pasar domestik melalui anak usaha perusahaan, PT Citra Palu Minerals (CPM). Ia menegaskan bahwa rencana pemerintah tidak akan memengaruhi kinerja pendapatan BRMS.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 30 September 2025, 100% penjualan emas dan perak CPM terserap oleh pembeli dalam negeri. Pembeli domestik meliputi beberapa perusahaan seperti PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), PT Simba Jaya Utama, PT Swarnim Murni Mulia, PT Pegadaian Galeri Dua Empat, dan PT Elang Mulia Abadi Sempurna. Penjualan perak juga dialirkan ke sejumlah perusahaan serupa.
CPM saat ini mengoperasikan tambang emas dan perak di Blok 1 (Poboya), Palu, Sulawesi Tengah. Perusahaan juga menjalankan dua fasilitas pemrosesan Carbon in Leach (CIL) di lokasi yang sama. Produk akhir yang dipasarkan adalah emas dan perak murni, bukan dore bullion.
Rencana Ekspansi dan Pinjaman Sindikasi
BRMS juga merencanakan pengambilan pinjaman sindikasi senilai US$600 juta dari perbankan asing dan lokal. Dana tersebut bertujuan mendukung rencana ekspansi perusahaan. Setengah dari dana pinjaman akan dialokasikan untuk proyek tambang emas bawah tanah atau underground mining di Palu. Sisa dana digunakan untuk eksplorasi dan pembangunan fasilitas pabrik di Gorontalo Minerals serta Linge Mineral Resources.
Agoes mengungkapkan harapan agar pinjaman dapat segera dicairkan agar proyek dapat selesai lebih cepat. “Jika bisa akhir bulan ini [pinjaman] saya akan drawdown supaya cepat dapat uang, pabriknya cepat selesai underground mining selesai dan saya bisa produksi cepat,” ujarnya.
Prospek Kinerja dan Pertumbuhan Laba
Dalam perkembangan lain, kinerja BRMS diperkirakan tetap solid hingga akhir 2025. Hal ini didorong oleh kenaikan harga emas dan peningkatan volume produksi. Hingga kuartal III/2025, pendapatan BRMS meningkat 69% secara tahunan menjadi US$183,57 juta. Laba bersih juga naik 129% menjadi US$37,61 juta.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa kenaikan harga jual (ASP) sebesar 39% menjadi US$3.468 per troy ounce turut mendukung pertumbuhan laba. Produksi emas BRMS diperkirakan mencapai 68.000–71.000 ribu troy ounce sepanjang tahun ini.
Memasuki 2026, prospek perseroan dinilai tetap kuat seiring rampungnya proyek pushback pada kuartal pertama dan perluasan fasilitas CIL. Namun, kenaikan biaya operasional dan volatilitas harga emas bisa menjadi penekan margin dalam jangka pendek.
Perluasan Fasilitas CIL dan Proyek Tambang Bawah Tanah
BRMS berencana memperluas kapasitas pabrik Carbon-in-Leach (CIL) dari 500 ton/hari menjadi 2.000 ton/hari. Ekspansi ini diharapkan mulai berkontribusi pada kuartal IV/2025 atau awal 2027. Proyek tambang bawah tanah juga sesuai jadwal, dengan target produksi pada kuartal IV/2027. Kadar emas diperkirakan melebihi 4 gram per ton material, sehingga berpotensi meningkatkan profitabilitas.
Samuel Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli saham BRMS dengan target harga Rp1.300 per saham. Target ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 16% dari harga saat ini yakni Rp930 per saham. Risiko utama tetap ada, termasuk harga emas yang lebih rendah dari perkiraan dan potensi penundaan pelaksanaan proyek.
BRI Danareksa juga memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp1.080 per saham. Peningkatan kinerja dan proyeksi ekspansi kapasitas menjadi faktor utama pendorong valuasi.
Di lantai BEI, saham BRMS saat ini berada di level Rp930 per saham. Harga tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 168,79% sejak awal tahun dan menguat 113,30% selama tiga bulan terakhir.
Disclaimer
Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Aksaraintimes.id tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

