Site icon Aksaraintimes.id

MBG Bantu Warga Pulau Kelapa

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Berdampak Positif di Pulau Kelapa

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi warga di wilayah terluar Jakarta, khususnya di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu. Layanan yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulau Kelapa Yayasan Nur Cahaya Lestari menjadi penopang penting dalam memenuhi kebutuhan gizi harian ribuan anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Kepala SPPG Pulau Kelapa, Abdul Rasyid, menjelaskan bahwa saat ini sebanyak 1.945 penerima manfaat telah memperoleh layanan dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut. “Sudah terdiri dari murid-murid sekolah (SD, PAUD), balita, ibu menyusui, dan ibu hamil,” ujarnya saat ditemui Aksaraintimes.id, Kamis (4/12).

Sejak mulai beroperasi pada 15 September lalu, layanan MBG di Pulau Kelapa telah berjalan hampir tiga bulan. Lokasi yang berada di pulau tentu menghadirkan tantangan logistik yang tidak ringan. Meski demikian, tim SPPG memastikan kualitas makanan tetap terjaga.

Kendala dalam Pengadaan Bahan Baku

Kendala utama datang dari pasokan bahan baku, terutama ayam, telur, sayur, dan buah. “Untuk pemenuhan bahan baku, kami selalu melakukan pemesanan dari daratan. Kendalanya paling kalau angin dan ombak besar,” jelas Rasyid. Pihaknya pun meminta pemasok menjaga kualitas kiriman, terutama bahan yang harus sampai dalam kondisi beku dan segar.

Untuk mengoperasikan dapur MBG setiap hari, sebanyak 35 relawan lokal dilibatkan dalam proses persiapan, pengolahan, hingga pendistribusian makanan. Mayoritas merupakan warga Pulau Kelapa, dan sebagian lainnya dari Pulau Harapan. Mekanisme perekrutan juga mempertimbangkan pemberdayaan ekonomi agar program sekaligus membuka peluang kerja bagi warga setempat.

Tantangan dalam Standar Kebersihan

Terkait standar kebersihan, SPPG Pulau Kelapa masih menghadapi kendala dalam pemenuhan persyaratan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), terutama karena kondisi air tawar yang sangat terbatas. Uji laboratorium air menjadi kewajiban, sementara ketersediaan air bersih di pulau masih minim. “Kalau pun kami pakai SWRO (Sea Water Reverse Osmosis), ditakutkan nanti dampaknya ke masyarakat. Masyarakat bisa tidak kebagian air,” kata Rasyid. Karena itu, pihaknya meminta toleransi sembari tetap mengikuti arahan Badan Gizi Nasional (BGN).

Manfaat yang Dirasakan Masyarakat

Meski berada dalam berbagai keterbatasan geografis, manfaat program MBG dirasakan kuat oleh masyarakat. Para orang tua mengaku sangat terbantu karena sebagian kebutuhan pangan anak kini terpenuhi dari program tersebut. “Kadang makanan MBG ini ada yang dibawa pulang oleh murid, misalnya buah atau susu. Itu sudah mengurangi biaya orang tua untuk memberi uang jajan,” ujarnya.

Sebagian besar warga Pulau Kelapa bekerja sebagai pegawai PPSU, petugas kebersihan, dan nelayan. Dengan kondisi ekonomi tersebut, kehadiran MBG menjadi angin segar. Antusiasme warga pun tinggi karena program ini tidak hanya mendukung kesehatan anak dan kelompok rentan, tetapi juga meringankan beban ekonomi keluarga. “Apalagi bagi ibu-ibu yang memiliki anak sekolah dan ditunjuk sebagai penerima manfaat. Itu cukup membantu dari segi ekonomi,” pungkasnya.

Exit mobile version