Site icon Aksaraintimes.id

Janji Telepon 1 Tanggal Minta Uang Jajan, Nasiah Kini Hanya Menanti di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny

Kisah Duka di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo

Di tengah keramaian keluarga santri yang berkumpul di reruntuhan Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, seorang perempuan terlihat berdiri dengan mata sembab. Dia adalah Nasiah, ibu dari Muhammad Nasihudin, seorang santri kelas 2 SMP yang telah menimba ilmu di pondok tersebut selama lebih dari dua tahun.

Janji Terakhir Seorang Ibu

Sepuluh hari sebelum tragedi, Nasiah menerima janji dari putranya untuk menelepon pada tanggal 1 untuk meminta uang jajan. Namun, alih-alih mendengar suara anaknya, ia justru mendapatkan kabar menyedihkan mengenai ambruknya bangunan pesantren yang menimbun puluhan santri di dalamnya. Dalam wawancara yang dilakukan, Nasiah mengingat percakapan terakhirnya dengan Nasi, panggilan akrab untuk putranya.

“Dia bilang, jangan terlalu mikirin dia karena dia sudah betah di pondok. Dia cuma pengin jadi orang yang lebih baik,” kata Nasiah dengan suara lirih, mengenang saat-saat terakhirnya berkomunikasi dengan sang anak.

Kabar Duka

Nasiah menerima kabar ambruknya gedung pesantren dari saudaranya di Bangka Selatan tak lama setelah salat Magrib. Ketika melihat berita di televisi, ia menyadari bahwa itu adalah kenyataan yang menyakitkan. Meskipun mendengar kabar duka tersebut, Nasiah tidak langsung pulang malam itu. Dia menunggu semalaman, berharap bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan anaknya. Namun, hingga kini, belum ada kabar pasti mengenai Nasi.

Beberapa hari setelah kejadian, Nasiah tiba di Madura dari Bangka Belitung dan bergabung dalam proses pencarian yang telah memasuki hari keenam. Harapannya adalah agar tim gabungan dapat mempercepat evakuasi, sehingga para korban bisa segera ditemukan.

“Harapan saya semoga cepat-cepat ditemukan, terutama anak saya dan santri lain yang masih terjebak. Kami sudah terlalu lama menunggu,” ujarnya penuh harap.

Rencana Pemakaman

Jika jenazah Nasi berhasil ditemukan, keluarga akan berdiskusi mengenai lokasi pemakaman. Namun, kemungkinan besar jenazah akan dimakamkan di Madura, mengingat jarak ke Bangka yang terlalu jauh. “Mungkin di Madura saja,” ucap Nasiah.

Sejak awal proses evakuasi, Nasiah belum menerima klarifikasi dari pihak pesantren maupun para guru mengenai keberadaan anaknya. Ia hanya bisa menunggu di lokasi dengan penuh harapan di antara reruntuhan bangunan.

Update Terkini Tragedi di Pondok Pesantren Al-Khoziny

Jumlah korban akibat ambruknya bangunan mushala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Kabupaten Sidoarjo terus bertambah. Hingga informasi terakhir pada Jumat (3/10/2025) pukul 23.05 WIB, total korban tercatat sebanyak 167 orang. Dari jumlah tersebut, 118 orang telah ditemukan dengan rincian 103 orang selamat, 14 orang meninggal dunia, dan satu orang pulang tanpa membutuhkan perawatan medis.

Sebanyak 14 orang yang selamat masih dalam perawatan intensif di rumah sakit, sedangkan 89 orang lainnya telah diperbolehkan pulang. Namun, masih ada 49 orang lainnya yang berdasarkan daftar absensi pondok pesantren masih dalam pencarian tim SAR gabungan.

Proses Pencarian yang Terus Berlanjut

Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB menegaskan bahwa operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung. “Proses pencarian dan evakuasi terus dilakukan selama 24 jam penuh dengan dukungan dari Basarnas, BPBD, TNI-Polri, PMI, Tagana, Pemadam Kebakaran, dan relawan lainnya,” jelas Abdul Muhari.

Pada hari kelima pencarian, delapan jenazah berhasil dievakuasi dari berbagai sektor. Penemuan pertama terjadi di lokasi tempat wudhu sektor A2, diikuti oleh penemuan lainnya di sektor yang berbeda. Proses pencarian berlanjut hingga sore, dengan penemuan korban yang berlangsung di sektor A3 dan A1.

Pembagian Sektor Pencarian

Pembagian sektor pencarian ditetapkan oleh Basarnas untuk memudahkan koordinasi dan mempercepat proses evakuasi. Berikut adalah rincian sektor pencarian:

“Pembersihan material dilaksanakan tanpa henti. Setiap puing yang dibuka bisa saja menyimpan korban, sehingga seluruh tim terus bekerja maksimal,” pungkasnya.

Kisah ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana, serta harapan untuk menemukan para korban yang masih hilang.

Exit mobile version