Penguatan Koeksistensi Warga Jepang dan Pendatang di Fukushima
Asosiasi Governor Nasional Jepang (NGA) telah mengeluarkan deklarasi yang bertujuan untuk memperkuat koeksistensi antara warga Jepang dan pendatang, sekaligus menolak sikap xenofobia. Deklarasi ini juga mendorong terbentuknya masyarakat multikultural yang saling mendukung.
Fukushima menjadi salah satu wilayah yang menjadi contoh dalam pertumbuhan jumlah penduduk asing. Wilayah ini mengalami peningkatan pesat dalam jumlah warga asing, khususnya dari Vietnam, Indonesia, dan Myanmar. Hal ini mencerminkan kebutuhan akan dukungan sosial dan edukasi yang lebih baik untuk menjaga harmoni antara masyarakat lokal dan pendatang.
Dukungan Multibahasa dan Edukasi Sosial
Pemerintah daerah dianjurkan untuk memperkuat dukungan multibahasa melalui penggunaan aplikasi penerjemahan, pelatihan penerjemah sukarela, serta peningkatan fasilitas konsultasi. Interaksi antara warga lokal dan pendatang juga perlu diperluas melalui partisipasi dalam festival dan kegiatan publik. Edukasi mengenai aturan hidup, pembuangan sampah, serta pengendalian kebisingan dinilai penting untuk meminimalkan potensi konflik sosial.
Dalam sebuah wawancara dengan Aksaraintimes.id, seorang pejabat pemerintah Prefektur Fukushima menyatakan bahwa jumlah warga asing di wilayahnya terus bertambah, terutama peserta program magang teknis dan pelajar internasional. Mereka menjadi bagian dari masyarakat lokal, dan pihak pemerintah berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang mendukung terwujudnya masyarakat simbiosis.
Pertumbuhan Populasi Asing di Fukushima
Hingga akhir Desember 2024, jumlah warga asing di Prefektur Fukushima mencapai 19.650 orang, hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2014 yang tercatat sebanyak 9.963 orang. Pada 2023, angka ini bahkan telah melampaui 1 persen dari total populasi prefektur tersebut.
Berdasarkan kewarganegaraan, warga Vietnam menjadi kelompok terbesar dengan 4.977 orang. Sementara itu, peningkatan signifikan juga terlihat pada warga asal Indonesia dan Myanmar. Menurut Biro Tenaga Kerja Fukushima, terdapat 13.710 pekerja asing per akhir Oktober 2024. Mereka tersebar di berbagai sektor industri seperti manufaktur, konstruksi, perdagangan, akomodasi, serta layanan makanan dan minuman.
Kehadiran tenaga kerja asing dinilai penting bagi wilayah yang tengah menghadapi penurunan jumlah penduduk. Namun demikian, perbedaan bahasa dan budaya memunculkan tantangan tersendiri. Oleh karena itu, pendidikan tentang aturan hidup dan pengelolaan lingkungan menjadi hal yang sangat penting.
Warga Negara Indonesia di Fukushima
Warga Negara Indonesia menjadi kelompok terbesar keempat di Fukushima setelah Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Jumlah WNI di wilayah tersebut berkembang pesat: dari 684 orang (2022) menjadi 1.208 orang (2023), lalu kembali meningkat hingga 1.692 orang pada 2024.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa komunitas Indonesia di Fukushima semakin berkembang dan memiliki peran penting dalam masyarakat setempat. Diskusi komunitas di 47 prefektur Jepang terbuka bagi umum. Peminat dapat bergabung tanpa biaya dengan mengirimkan nama, alamat, dan nomor WhatsApp ke email: tkyjepang@gmail.com.
Kebijakan dan Tindakan yang Diperlukan
Deklarasi NGA menegaskan penolakan terhadap sikap eksklusif dan xenofobia, khususnya yang bersumber dari informasi tidak akurat mengenai warga asing. NGA menekankan perlunya diskusi yang rasional untuk menciptakan masyarakat multikultural di mana warga lokal dan pendatang dapat hidup dengan aman dan saling berkontribusi.
Di sisi lain, tindakan ilegal dan penyalahgunaan sistem oleh pihak tertentu akan ditindak lebih tegas melalui koordinasi dengan pemerintah pusat. Deklarasi ini juga muncul sebagai respons atas meningkatnya kecemasan publik terhadap bertambahnya jumlah penduduk asing sejak pemilu parlemen Juli 2025.

