Kebiasaan Makan yang Menghargai Makanan
Piring adalah alat yang sangat dekat dengan aktivitas makan. Setidaknya tiga kali sehari, orang bersentuhan dengan piring. Ini terjadi dalam kegiatan makan pagi, siang, dan malam. Meskipun ada kalanya orang memakan makanan beralas daun atau kertas minyak, piring tetap menjadi alat utama dalam banyak situasi.
Tidak membedakan antara orang tua dan anak, dua generasi ini dapat menikmati makanan yang disajikan di atas piring. Namun, ada juga yang memilih menggunakan daun atau kertas minyak sebagai alas makan. Kebiasaan ini tidak mengurangi tujuan utama, yaitu untuk menikmati makanan tanpa menyisakan sisa.
Kecuali bagian-bagian seperti tulang, duri, atau cangkang telur yang tidak layak dimakan, semua makanan yang tersedia seharusnya bisa dinikmati. Dalam catatan ini, istilah “piring” digunakan karena kebanyakan orang lebih sering makan di atas piring, baik di rumah maupun di tempat-tempat makan lainnya.
Piring sebagai Alat Edukasi Anak
Yang paling efektif dalam mendidik anak tentang menghargai makanan adalah penggunaan piring saat makan bersama keluarga. Misalnya, ayah, ibu, dan anak berkumpul untuk makan bersama. Bahkan, kadang nenek atau kakek serta saudara juga ikut berpartisipasi.
Pengalaman pribadi saya menjadi dasar dari catatan ini. Suatu hari, saya makan siang bersama istri. Si bungsu sedang sekolah, sehingga tidak bisa makan bersama. Sementara itu, si sulung bekerja di luar daerah. Akibatnya, hanya saya dan istri yang makan bersama pada waktu itu.
Setelah makan, istri melihat piring saya dan berkata bahwa piring tersebut bersih seperti milik Mbahe, yang merupakan panggilan untuk bapak saya. Bapak saya meninggal beberapa bulan yang lalu dalam usia 95 tahun. Ia selalu menjaga kebersihan piring saat makan, bahkan hanya tersisa satu butir nasi pun ia akan memakannya.
Saya heran dengan kebiasaan bapak, namun hal ini membuat saya merasa bahwa kebiasaan menghabiskan makanan hingga piring bersih adalah sesuatu yang baik. Meskipun saya tidak pernah merasa meneladani bapak, saya tetap menjaga kebiasaan ini. Tujuannya adalah agar tidak ada sisa makanan yang tersisa setelah makan.
Menghargai Makanan Sebagai Bentuk Syukur
Saya melakukan kebiasaan ini baik di rumah maupun di luar rumah, seperti di warung. Orang mungkin menganggap saya rakus, tetapi bagi saya, ini adalah bentuk menghargai makanan yang sudah tersedia. Saya tidak pernah berbicara langsung dengan bapak tentang kebiasaan piring bersihnya, tetapi ternyata bapak memiliki sikap yang sama.
Saya tidak tahu apakah bapak memiliki pemahaman yang sama atau berbeda tentang arti menghargai makanan. Yang pasti, kebiasaan ini sangat baik dan penting untuk ditumbuhkan di dalam keluarga.
Pengaruh Keluarga Terhadap Anak
Saya bersyukur bahwa kebiasaan ini dapat menjadi contoh untuk anak-anak. Meski belum sepenuhnya berhasil, saya tetap berusaha menjaga kebiasaan ini. Misalnya, saat mengambil makanan, saya selalu memperhatikan jumlahnya agar tidak berlebihan. Jika habis, saya bisa ambil lagi jika masih ingin makan.
Dengan cara ini, piring tidak tampak ada makanan yang tersisa. Melalui dialog singkat dengan anak saat makan bersama, kebiasaan baik ini dapat diamati dan dipahami oleh anak. Di masa kecil, saya juga pernah tidak menghabiskan makanan. Orangtua selalu mengingatkan dengan ucapan “mundhak pitike mati”, yang artinya “nanti ayamnya mati”.
Dari sini, saya memahami bahwa maksudnya adalah agar anak tidak menyisakan makanan. Dulu, sisa makanan diberikan kepada ayam, tetapi jika diberi sisa yang tidak layak, ayam bisa mati. Hal ini memberikan pesan bahwa makanan harus dihabiskan, tidak boleh dibuang.
Pentingnya Menanamkan Nilai Hemat
Di Jawa, nilai-nilai hemat dan tidak boros sudah ditanamkan sejak dahulu. Kini, simbol-simbol dan ungkapan-ungkapan ini mulai langka. Oleh karena itu, dalam momen makan bersama di keluarga, orangtua perlu menjadi teladan. Piring yang digunakan harus bersih, tanpa sisa makanan.
Ini mencerminkan rasa syukur terhadap petani, berempati terhadap orang yang kurang beruntung, dan menghargai berkat Tuhan. Contoh nyata adalah saudara-saudara di lokasi pengungsian akibat bencana. Mereka tidak memiliki akses mudah ke makanan, jadi kita harus lebih sadar.
Peran Orang Tua dalam Membentuk Sikap Anak
Saya menulis ini karena melihat banyak murid di sekolah tempat saya mengajar sering meninggalkan sisa makanan saat makan bergizi gratis (MBG). Guru sudah menasihati, tetapi praktik buruk ini masih terjadi.
Perbedaan ini sangat kontras dengan kondisi saudara-saudara di pengungsian. Bagaimana mungkin anak-anak tidak menghargai makanan yang tersedia? Proses membentuk sikap menghargai makanan harus dimulai dari keluarga.
Orangtua harus menjadi teladan, dengan praktik nyata seperti menghabiskan makanan hingga piring bersih. Ini bukan teori, tetapi tindakan yang bisa dilihat langsung oleh anak. Nilai teladan ini sangat besar dampaknya.
Keberlanjutan Nilai Teladan
Meski ada tantangan, nilai teladan ini perlu terus dilakukan. Bukan mustahil anak akan mengikuti pola yang dilakukan orangtua. Bahkan, sikap menghargai makanan bisa berkembang ke aspek lain, seperti hemat dan tidak boros. Efek positif ini akan dirasakan oleh banyak pihak.

